Amankah Uang di Kartu ATM Anda?
Catatan ini berawal dari kisah seorang teman saya yang baru saja kecopetan dompetnya dan uang, kartu ATM juga ktp-nya hilang bersama si dompet. Sebetulnya sih saldonya dia aman2 saja, tapi konon si pencuri sempat berhasil menebak nomer PIN-nya sebelum akhirnya diblokir sama bank.
Sedikit gambaran, membongkar kode pin seseorang itu sebetulnya sangat sulit, karena kebanyakan bank memberikan restriction bahwa setelah n kali kegagalan memasukkan pin, kartu ATM akan terblokir, sehingga kalaupun Ia punya device pembaca kartu dan bisa terhubung ke jaringan bank *jadi dia tidak perlu berdiri di ATM lama2 dan mencoba menebak – nebak kemungkinan pin* sangat kecil kemungkinannya Ia bisa menebak dengan benar.
Bagaimanapun, menurut hasil diskusi dan pengamatan saya dengan beberapa orang kolega sebetulnya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencuri saldo dari kartu ATM, antara lain:
Penguntitan / Pengintipan PIN
Ini cara paling mudah dan efektif buat seorang pencopet, intip seseorang ketika memasukkan nomer PIN di ATM, kuntit dan curi dompetnya, lalu gunakan nomer PIN yang tadi dicuri.
Cara untuk mencegah kejadian seperti ini tentu saja selalu siaga di ATM, awasi baik – baik keadaan sekitar anda, usahakan hanya ke mesin ATM ketika anda mau pulang, sehingga kemungkinan anda dikuntit sampai bisa tercuri kecil.
Menebak PIN Lewat Data Pribadi
Sederhana saja, kebanyakan orang itu nomer PIN-nya antara tanggal lahir, tanggal lahir pasangan, digit terakhir nomer telpon, 1234 atau 5555.
Untuk itu, gunakan nomer PIN yang tidak akan bisa ditebak kalau seseorang mencuri dompet anda, misalnya saja tanggal lahir orang tua, nomer telepon teman atau nomer pokok mahasiswa ;p
Belanja Di Merchant
Nah, ini yang paling gampang dilakukan oleh siapa saja: DIPAKE BELANJA!
Saat ini, sebagian besar bank memberikan layanan keterhubungan ke jaringan Visa/Master Card di dalam kartu debit mereka, layaknya kartu kredit, dan ini membuat kartu anda bisa digunakan untuk berbelanja tanpa memerlukan PIN di merchant2 tertentu. Saya sendiri memiliki sebuah debit card dari “bank terbesar di Indonesia” berlogo visa yang bisa digunakan di bbrp merchant tanpa perlu memasukkan PIN, cukup tanda tangan saja, dan kalau suatu saat kartu saya hilang bersama dompet, dari KTP saya jelas si pencuri bisa mencontek tanda tangan saya.
Ditambah lagi, di beberapa kompleks pertokoan bermodel seperti ITC, banyak merchant yang tidak menyediakan EDC di tokonya sendiri, dan ini memberikan kesempatan pada bbrp merchant tertentu yang punya EDC untuk membantu “tetangga2″nya itu, yaitu jika ada customer yang mau bayar pake kartu, kartunya digesek di EDC si merchant tersebut kemudian, si merchant memberikan uang cash ke toko tempat customer belanja, dan hal ini jelas bisa dimanfaatkan oleh para pencopet sebagai “penadah” untuk kartu hasil copetan mereka.
Karena itu, bagi anda yang menggunakan kartu debit yang berlogo visa/master card, kartu anda lebih beresiko untuk dibobol dengan mudah, karena itu, ada baiknya jika kartu tersebut hilang, sesegera mungkin telpon bank anda untuk melakukan blok.
Yak, sekian dulu sedikit sharing dari saya, semoga bermanfaat
Untung Ruginya Memilih Tuhan
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk serius, jadi bagi para debater yang masih sangat niat mendebat saya soal theism dan atheism, saya katakan dari awal saya akan menanggapi komentar anda dengan lelucon
Okay, sejak beberapa bulan lalu ketika saya mulai membahas masalah ketuhanan di facebook, gak sekali dua kali ketika sebuah diskusi mencapai titik kebuntuan antara harus percaya Tuhan atau tidak, terdengar jawaban seperti ini:
“Mending percaya aja, toh kalo Tuhan itu gak ada ya gw gak rugi, tapi kalo ada, gw dapet surga, sementara atheist, kalo gak ada ya gak untung, kalo ada atheist rugi masuk neraka”
Logika ini cukup terkenal dan dipopulerkan oleh matematikawan Blaise Pascal (yap, pascal yang bikin segitiga polinomial itu) dan biasa disebut Pascal’s Wager ( http://en.wikipedia.org/wiki/Pascal’s_Wager ). Yah, biarpun nadanya emang agak2 pragmatis tapi banyak yang ngikutin pemikiran ini…
Nah, awalnya memang sepintas terlihat bahwa paham atheism itu ruginya ada, untungnya gak ada, tapi masalahnya, emang iya paham theism itu gak ada ruginya?
Ilustrasinya gini:
- ketika menyikapi masalah Tuhan, manusia dihadapkan pada pilihan, mau percaya Tuhan atau nggak, nah atheist milih nggak, theist milih iya
- selanjutnya, theist akan memilih lagi, dari semua agama yang ada, agama mana yang mau dianut, mulai dari A sampe Z
- setelah memilih agama, theist akan kembali dihadapkan pada pilihan, mau memilih aliran mana dari agama2 itu
- setelah memilih aliran, berikutnya theist akan memilih lagi, implementasi bagaimana yang akan digunakan dalam kehidupannya
- setelah itu, theist akan memilih lagi bagaimana mereka harus menyikapi isu – isu di luar agamanya seperti politik negara, sosial dengan agama lain atau sains
Nah kasusnya tentang Tuhan itu secara garis besar bisa dibilang kemungkinannya:
- Tuhan itu gak ada
- Tuhan itu ada dan dia gak peduli apa yang manusia lakukan (gak itung2an gitu, siapapun boleh masuk surga atau siapapun masuk neraka)
- Tuhan itu ada, dia peduli sama yang manusia lakukan, tapi dia strict soal agama-aliran-cara hidup mana yang dia pilih
- Tuhan itu ada, dia peduli sama yang manusia lakukan tapi dia gak terlalu strict sama agama (yah, masih bisa dinego lah)
untuk masing – masing kemungkinan efeknya adalah:
kasus 1 : Tidak ada Tuhan
atheis hidup santai, theist hidup dengan cara yang sebetulnya gak ada untungnya
kasus 2 : Tuhan yang tidak mengurusi kehidupan manusia
atheis hidup santai, theist hidup dengan cara yang sebetulnya gak ada untungnya karena toh sama2 bakal masuk surga, neraka, atau malah mungkin gak ada afterlife
kasus 3 : Tuhan yang strict sama agama
atheist hidup santai, theist hidup dengan cara masing, tapi cuma yang milih agama, aliran dan implementasi yang pas yang dapet untung, sisanya udah cape2 ngikutin ajaran agamanya nasibnya sama aja sama atheist
kasus 4 : Tuhan yang menilai kehidupan manusia tapi fleksibel urusan agama
atheist hidup santai, theist hidup dengan cara masing, tapi cuma yang milih agama, aliran dan implementasi yang pas yang dapet untung gede, sisanya cape2 ngikutin ajaran agamanya, nasibnya bakal nunggu kompensasi yang sama aja sama atheist
jadi kesimpulannya? :p
Kalau mau main pragmatis dan cari aman, jelas dari ilustrasi di atas bahwa untuk banyak kasus, nasib anda gak akan jauh beda sama yang hidup santai…
Btw, tulisan ini bukan bertujuan untuk menggambarkan enaknya jadi atheist lho sebetulnya, saya justru ingin menuliskan, bahwa pragmatisme dalam kehidupan beragama tidak akan membawa anda ke mana – mana, memenangkan tiket ke surga jauh lebih berharga dibanding masuk ke sekolah impian, perusahaan bergengsi atau jabatan yang bagus… Nah kalau untuk hal – hal itu saja anda berpikir serius, kenapa untuk hal yang satu ini kebanyakan orang justru mendasarinya dengan pragmatisme?
_________________________________________________
note: tulisan ini awalnya saya publish di note facebook, tapi karena banyak peminatnya, saya publish ulang disini biar semua orang bisa baca
‘Aku Ingin Dicintai Layaknya Bella Swan’
Sequel terbaru dari seri ‘Twilight’, yaitu ‘Eclipse’ baru saja dirilis. Dan seperti prequel – prequelnya, film ini pun kembali merebut perhatian jutaan penggemarnya di seluruh dunia, dimana mayoritasnya adalah wanita. Namun, di tengah gegap gempitanya histeria para‘groupies’, tidak sedikit juga dari kalangan pria yang mencibirnya. Mulai dari menekankan betapa rendahnya rating film tersebut di situs – situs kritik film hingga membubuhkan cap ‘gay’ bagi pria yang menonton film tersebut. Akhirnya timbullah sebuah pertanyaan, ada apa sebetulnya dengan Twilight? Kenapa sampai sebegitu terdengarnya perdebatan antara penggemar dan pembenci film ini?
Twilight mengisahkan kehidupan percintaan seorang anak gadis bernama Bella Swan. Bella adalah seorang anak gadis rata – rata, keluarganya broken home, bukan tipe gadis populer, tidak modis, tidak terlalu menonjol di kelas, tidak ‘gaul’, berparas cukup cantik tapi belum termasuk kategori ‘wah’.
Di sisi lain, ada 2 orang pria dalam kehidupan percintaan Bella. Yang pertama adalah Edward, si vampir yang dikenal sebagai anak orang kaya, super tampan, populer dan cool, sementara yang kedua adalah Jacob, si werewolf dengan pembawaan berandalan sopan yang hot. Keduanya tergila – gila pada Bella, bahkan rela bertarung mempertaruhkan nyawa demi memperebutkan Bella.
Ketika Raimi membesut film spider-man yang pertama, Ia mengatakan bahwa kunci suksesnya dalam film tersebut adalah karakter Peter Parker yang dibawakannya adalah karakter ‘pria rata – rata’ yang kemudian dibawanya menjadi karakter ‘pria luar biasa’. Hal tersebut diyakininya mampu menarik simpati para pria yang merasa senasib dengan Peter untuk mendalami emosi sang tokoh sebelum kemudian menggunakan simpati itu untuk melayangkan angan – angan dan imajinasi mereka dalam gelayutan spider-man di tengah gedung – gedung bertingkat bersama si cantik Mary Jane.
Mungkin formula yang sama lah yang membuat jutaan wanita tergila – gila pada Twilight. Karakter Bella yang ‘rata – rata’ itu dimanfaatkan untuk menggaet simpati para wanita yang merasa senasib, yaitu para wanita yang merasa tidak populer, tidak berprestasi menonjol, tidak modis, tidak gaul dan bukan ‘bintang’. Kemudian, dengan formula yang sama pula, para penonton tersebut dibawa terbang ke dalam impian mereka. Namun bedanya, jika impian para lelaki adalah terbang dan menjadi pahlawan super, impian wanita adalah dicintai layaknya Bella Swan.
Bagi kebanyakan wanita, romantika adalah bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Jika kebanyakan pria menilai kesuksesan hidup lewat prestasinya, kebanyakan wanita menilainya lewat kisah cintanya. Namun tentu saja, seperti ucapan Quinn Fabray di Glee, “This Is a Man’s World“!
Dunia ini memang tidak berpihak pada wanita untuk urusan romantika. Di dunia nyata, pria populer lah yang memilih wanita. Pria lah yang lebih sering mendapatkan ‘pilihan lain’ ketika pasangannya sedang berada jauh disana. Pria punya hak untuk menolak permintaan wanita sementara mereka selalu punya ancaman untuk memaksa pasangannnya. Setidaknya, begitulah dunia ini di mata kebanyakan wanita yang kurang beruntung dalam percintaannya.
Sementara Bella Swan? Dia diperebutkan 2 orang pria yang masing – masing adalah tipe – tipe pria favorit, yang satu adalah si tampan super cool dan satu lagi adalah si berandalan yang sopan kepadanya. Bella Swan memiliki kesempatan untuk mendapatkan cinta dari Jacob ketika Edward tidak ada. Dan Edward? Dia melakukan banyak sekali hal demi Bella tanpa meminta banyak imbalan darinya.
Malam ini saya bertanya pada beberapa teman wanita mengenai teori saya ini, dan hasilnya ternyata sesuai dugaan saya. Wanita yang menyukai Twilight, hampir semuanya dikarenakan kisah cinta Bella yang merupakan impian mereka, mulai dari mendapatkan pria sesetia Edward, memiliki pilihan dalam bercinta hingga diperlakukan sebaik Edward memperlakukan Bella. Dan di luar itu, tentu saja ada alasan lain seperti menyaksikan sosok – sosok pria tampan yang tentu saja memberikan kesenangan tersendiri.
Pada akhirnya, saya ingin mencoba menjawab bagi para pria yang masih mempertanyakan apa yang dilihat para wanita dari film ini. Secara sederhana, jika anda melihat wanita menyukai Twilight, kemungkinan besar yang ada di pikirannya hanyalah sebuah kalimat sederhana:
“Aku Ingin Dicintai Layaknya Bella Swan”
Jadi tunggu apa lagi? Kalau salah satu di antara wanita itu adalah gebetan anda dan sedang single, datangilah dan perlakukanlah dia layaknya Edward memperlakukan Bella.
Butuh 3 Pria Untuk Makan Es Krim

Catatan ini adalah penjelasan dari teori lama mengenai pergaulan, isu gender dan reaksi masyarakat terhadap fenomena sederhana yang terjadi ketika pria melakukan hal – hal yang sebetulnya biasa, tapi berkesan tidak biasa karena pria yang melakukannya
Sebelum membahas mengenai teori ini, terlebih dahulu saya ingin menceritakan asal muasal tercetusnya teori ini.
Beberapa tahun yang lalu, ketika saya kuliah tahun kedua, saya tinggal di sebuah kamar kost bersama dengan 2 orang teman saya yang kebetulan berkuliah di fakultas yang sama dengan saya. Sebut saja mereka itu adalah Bang Y dan Om2 Z. Perjalanan dari kost kami menuju kampus melewat beberapa spot tertentu, antara stasiun UI dan Alfamart psikologi.
Satu item yang menarik dari alfamart di psikologi adalah es krim. Kami bertiga sangat menyukai es krim, sehingga sering sekali kami pulang bersama dan mampir disana sekedar untuk membeli es krim. Awalnya semuanya berjalan biasa saja, sampai akhirnya ketika semester 3 mendekati akhir, dan kami punya kesibukan yang berbeda, sehingga kami terkadang harus pulang terpisah.
Pada suatu hari, saya dan Bang Y pulang berdua karena Om2 Z sedang sibuk mengerjakan tugas di kampus. Hari itu, kami membeli es krim, dan seperti biasa kami memakannya sepanjang perjalanan. Namun, ada yang berbeda rasanya hari itu. Entah kenapa, kami merasa banyak orang ngeliatin kami sepanjang perjalanan. Sesampainya di kosan, kami sama2 memeriksa diri, apakah ada yang salah dengan kami, dan sepertinya tidak ada yang salah.
Beberapa hari kemudian, kami melakukannya lagi, dan kembali merasa banyak yang keliatan, dan kami tetap bingung hingga akhirnya kami bertemu seorang teman wanita di tengah jalan dan dengan santai dia berkomentar:
aww… makan es krim berdua… so sweeeetttt….
OMG! dan saat itulah kami sadar, bahwa ketika dua orang pria makan es krim berdua, suka tidak suka, ada orang yang memandang itu “sedikit” gay-ish…
malamnya kami menceritakan hal itu pada Om2 Z. Dan Ia pun bercerita, bahwa minggu itu, Ia pun sempat mampir dan membeli es krim sendiri, dan merasa ada yang salah. Dan kami berpikir, kalau memang 2 pria makan es krim gay-ish, apa yang salah dengan seorang pria makan es krim sendirian?
dan jawabannya kami temukan beberapa hari kemudian, ketika kami melihat seorang pria makan es krim sendirian… salah seorang dari kami berkomentar:
ih, kesian amat tuh cowok, makan es krim sendirian, udah kayak orang autis aja…
Damn! saat itulah kami mulai membuat dan menyebarkan teori ini, yang kami sebut sebagai “Hukum kegiatan pria di tempat umum”, yang menyatakan bahwa:
Makan es krim, nonton bioskop, makan cimol, berjalan dengan pose mesra seperti bergandengan tangan, serta hal – hal serupa lainnya hanya dapat dilakukan oleh pria yang berjumlah sekurang – kurangnya 3 orang. Melakukan hal itu sendirian akan membuat anda terlihat kesepian, dan melakukannya berdua membuat anda terlihat pasangan gay, dan tiga orang memenuhi syarat minimal anda terlihat sebagai “geng” atau semacamnya…
Dan somehow, mungkin karena teori ini memang representatif terhadap lingkungan sosial di sekitar kita atau bagaimana, teori ini cepat menjadi populer di kalangan sekitar kami.
Namun, ternyata ada flaw dalam hukum tadi yang kami sadari beberapa saat kemudian. Saat itu adalah tanggal rilis film Spiderman – 3, dimana sangat ditunggu – tunggu oleh teman – teman di sekitar kami. Banyak di antara mereka yang ingin nonton, namun karena mereka cukup percaya pada teori kami tersebut, mereka mengumpulkan jumlah yang cukup dulu sebelum menonton. Dalam hal ini, mereka mengumpulkan 8 orang pria untuk pergi nonton bersama.
Dengan berpegang pada teori kami, mereka merasa bahwa dengan jumlah 8 orang cukup membuat mereka sebagai “geng dengan jumlah lumayan”. Namun kenyataannya, jumlah 8 orang nonton bersama terlalu banyak untuk pria yang pergi tanpa ada 1 wanita pun. entah bagaimana caranya, saya juga lupa, tapi justru ada yang menyebut mereka sebagai
ih, sekumpulan cowok gak laku yang pergi bareng
so, akhirnya kami menyadari bahwa jumlah ideal sekumpulan pria melakukan kegiatan seperti yang telah kami sebutkan di atas secara bersama – sama adalah 3 – 5 orang, di atas itu anda akan tampak sebagai sekumpulan pria tidak laku
dan kami melakukan revisi terhadap hukum kami menjadi:
Makan es krim, nonton bioskop, makan cimol, berjalan dengan pose mesra seperti bergandengan tangan, serta hal – hal serupa lainnya hanya dapat dilakukan oleh pria yang berjumlah sekurang – kurangnya 3 orang dan sebanyak – banyaknya adalah 5 orang. Melakukan hal itu sendirian akan membuat anda terlihat kesepian, dan melakukannya berdua membuat anda terlihat pasangan gay, dan tiga orang memenuhi syarat minimal anda terlihat sebagai “geng” atau semacamnya… dan ketika jumlahnya melebihi 5 orang, anda akan terlihat sebagai “geng pria – pria kurang laku”
kesimpulannya… meskipun isu gender terkadang terasa mengekang wanita, sebetulnya pria pun mengalami tekanan,
seorang wanita makan es krim sendirian? cute. seorang pria? autis
dua orang wanita jalan bergandengan tangan? temen baik. dua orang pria? gay.
7 orang wanita nonton bioskop bareng? cewek2 gaul. 7 orang pria? cowok2 gak laku
jadi, saya sarankan bagi anda para pria, untuk mempertimbangkan hukum ini sebelum anda melakukan kegiatan – kegiatan tersebut bersama – sama
_________________________________________________________________
notes: catatan ini sudah pernah saya publish sebelumnya di notes facebook saya, tapi somehow tiba2 saya pengen ngepost ini lagi disini
Cewek Geek vs CS ISP
alkisah seorang cewek yang sebetulnya sih agak gaptek tapi punya pacar seorang geek komplain ke Customer Service ISP-nya karena merasa layanan yang diterimanya akhir – akhir ini kurang memuaskan:
Selamat malam, dengan deni (bukan nama sebenarnya) bisa dibantu?
Malam mas… gini mas saya mau komplain soal kualitas internet saya akhir – akhir ini, kok rasanya akhir – akhir ini speed internet saya lambat ya?
……… (bagian komplain2 gak penting)….
Jadi gini deh mas, saya tadinya pake paket time based, sekarang paket itu masih ada gak mas?
masih ibu
yaudah saya mau pakai paket itu aja deh, daripada paket sekarang unlimited harganya segitu tapi kualitasnya segini
wah, kalau saya pribadi tidak merekomendasikan ibu
lho kenapa? saya setahun pakai time based dulu memuaskan kok dibanding unlimited abal2 semacam ini (dengan nada sangat sebel karena paketnya yang katanya unlimited malah tidak memuaskan)
begini bu, memang paket itu lebih murah, tapi kan kalau kelebihan pemakaian kita kenakan charge over quota ibu, jatuh2nya banyak pelanggan kecewa karena bulanannya mencapai 900 ribuan
ah, itu sih mereka aja gak bisa makai, saya dulu make itu tagihan berkisar 300 ribuan kok
ah masa ibu, semua pelanggan pada pindah kok dari time based karena bulanannya jatuhnya mahal
yah elah, memang over quotanya sekarang berapa sih mas? masih 1500 per jam kan?
oh, tidak ibu, quotanya kalau time based memang 50 jam, tapi over quotanya tidak kami charge per jam
lho, terus per apa donk? megabyte? berapa per megabytenya? (note: ketika Ia menggunakan paket tersebut sebelumnya, overquota di-charge per jam)
tidak ibu, kami charge-nya per kbps
hah? kbps? (note: kbps: kilo byte per second, ukuran kecepatan internet)
betul ibu
gimana cara ngitungnya itu? berapa rupiah biayanya per kbps?
wah saya juga kurang mengerti ibu, ada hitung – hitungannya di sistem kami
(mulai heran dengan si CS, masa itung2an overquota gak transparan, bisa berabe kalo pake paket ini tau2 ntar kena charge mahal)
lho masa gak tau? lagian mana ada over quota per kbps? gimana ngitungnya coba, ada tuh over quota kalo nggak per megabyte ya per jam, masa per kbps
betul ibu, per kbps, makanya jatuhnya mahal
gini deh mas, kalau saya memakai overquota selama 2 jam, dengan speed 500 kbps, dengan saya memakai overquota 1 jam dengan speed 1mbps, jatuhnya mahalan mana overquotanya, dan berapa?
lebih mahal yang 1 mbps ibu, kan kbpsnya lebih tinggi, dan karena itu jatuhnya mahal
(nada suara si CS udah mulai kedengeran sotoy – sotoy asal tembak)
hmm, gini2… emang kbps itu satuan apa sih mas? data yang ditransfer, waktu penggunaan atau kecepatan?
kecepatan ibu, kan sesuai dengan paket2nya, satuannya kbps, perbedaan di kecepatan
mas, pernah naik motor atau mobil? bensin mas berkurangnya setiap kilometer, setiap jam atau setiap kilometer per jam?
wah tergantung, kalau sedang lancar ya per kilometer, kalau macet setiap jam juga berkurang
nah, berarti gak mungkin kan bensin anda berkurang setiap kilometer per jam yang anda gunakan?
ya nggak lah bu, masa ngaruh kecepatan saya sama habisnya bensin, yang ngaruh ya jarak sama waktu karena macet atau nggak
yah, tepat sekali dan anda bilang pemakaian internet saya dikenakan biaya berdasarkan kecepatan?
…. (hening)….
tutt… tut…. tut…..
______________________________________________________________________________
note:
setelah cek ke website dan telpon CS-nya lagi, kali ini dengan operator berbeda, diketahui bahwa paket time based overquota-nya tetap per jam, dengan harga tetap 1500 per jam, dan biaya bulanan tidak harus semahal itu asal digunakan dengan bijak
Jangan Pergi ke Gaza Kalau Bukan Untuk Mereka
Belum kering air mata para keluarga yang harus kehilangan saudaranya dari peristiwa naas tersebut, sebuah isu telah terlintas di kalangan aktivis dan simpatisan Gaza tanah air, yaitu proyek Freedom Flotilla Jilid II. Aku bukannya tidak suka dengan ide ini, tapi cobalah tengok kembali peristiwa kemarin, kalau ada satu saja pelajaran yang bisa dipetik, itu adalah “Israel serius memblokade Gaza dan mereka tidak akan main – main mempertahankannya”.
Tidak kah anda semua bisa melihatnya? Lantas apa gunanya melakukan gerakan yang sama dengan yang kemarin? Hasilnya sudah dapat diketahui, Israel akan menyerang lagi dan tragedi yang sama akan terulang.
Cobalah kau merenung sejenak kawan, kalau kau tidak sayang nyawamu, itu urusanmu. Kalau kau berpikir untuk pergi hanya untuk cari perhatian untuk Tuhanmu, itu urusanmu. Kalau kau pergi dengan segudang harapan akan keajaiban tiba – tiba tentara Israel tergerak hatinya untuk membiarkanmu lewat, atau mungkin mereka dihempas badai ajaib dari langit, itu urusanmu.
Tapi kesuksesan dari misimu, itu juga urusan saudara – saudaraku sesama manusia sipil di Gaza yang terhimpit krisis sosial karena pertikaian para penguasa. Jangan bawa – bawa nama mereka dalam misimu kalau menolong mereka bukan tujuanmu. Jangan bawa – bawa mereka dalam nama misimu kalau kepergianmu hanya untuk misi egomu sendiri. Kalau kau mau membawa nama mereka, pikirkan dengan cermat aksimu. Aksi serupa sudah gagal, sebegitu bebalkah dirimu untuk melakukan hal yang sama tapi berharap itu berhasil? Atau kau memang tidak berharap itu berhasil, yang penting kau sudah pergi, toh gagal pun kau mati sebagai pahlawan.
Kalau kau mau pergi untuk dirimu, untuk lsm-mu, untuk partaimu, atau bahkan agamamu, jangan gunakan nama mereka. Sudah cukup mereka dihimpit kesulitan, jangan lagi kau gunakan nama mereka untuk publikasimu. Seperti yang kukatakan pada judul tulisan ini kawan, jangan pergi ke Gaza kalau bukan untuk mereka. Dan kalau kau memang pergi untuk mereka, maka pikirkanlah mereka. Pikirkanlah caranya untuk menolong mereka, jangan pergi kalau kau sendiri tidak bermaksud menolong mereka dan tidak yakin kau bisa melakukannya.
Saat Malaikat Bicara Pendidikan
Educatiel adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk mengawasi perkembangan kecerdasan manusia, khalifah sekaligus makhluk kesayangannya di bumi. Sekitar medio tahun 2010, Educatiel banyak sekali menerima laporan doa dan keluhan seputar pendidikan yang datang dari bumi Indonesia. Penasaran dengan apa yang terjadi di Indonesia, Educatiel mengundang seluruh malaikat penjaga dari anak – anak Indonesia untuk rapat dan mencari tahu sebetulnya sedang ada apa dengan pendidikan di Indonesia.
Setelah malaikat – malaikat penjaga itu berkumpul Educatiel memulai rapat dan membukanya dengan menceritakan apa yang didengarnya dari bumi Indonesia.
Saudara – saudaraku malaikat yang terhormat, banyak manusia di bumi Indonesia yang mengatakan ada kegagalan pendidikan di bumi Indonesia sana. Konon salah satunya terlihat karena adanya semacam ujian di sana yang banyak pesertanya yang tidak lulus. Berikut saya akan membacakan dugaan – dugaan saya mengenai kasus Indonesia ini dan mohon untuk ditanggapi.
lalu Educatiel pun mulai membacakan dugaan penyebab banyak manusia di bumi Indonesia yang mengeluhkan pendidikan:
Pertama – tama, saya ingin sampaikan bahwa banyak manusia yang mengeluhkan pemerataan kesempatan pendidikan, apakah benar itu terjadi dan menjadi sebab krusial di Indonesia?
“Maaf paduka, perkenalkan saya adalah malaikat penjaga dari seorang gadis berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah desa. Di desa tempat saya bertugas, fasilitas pendidikan minimalis sekali. Sekolah luasnya tidak lebih dari beberapa jengkal saja. Ruang kelas yang tersedia terbatas jadi harus dipakai bergantian. Kondisinya pun sangat jauh dari layak paduka.
Namun, menurut saya hal itu bukan masalah utama, meskipun minim setiap anak bisa mengenyam ilmu yang cukup sebetulnya. Sayangnya, anak – anak ini justru kurang mendapat kesempatan dari orang tua mereka sendiri paduka. Siang hari sepulang sekolah mereka diminta membantu orang tua mereka bekerja di kebun. Di malam hari mereka terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dan di luar itu semua paduka, tidak semua orang tua menginginkan anaknya sekolah. Banyak di antara mereka yang lebih suka anaknya meladang, membantu mengurus rumah saat bapaknya bekerja atau malah menikahkan mereka sejak dini.”
Hmm, begitu ya. Kalau begitu mungkinkah karena fasilitas di tempatmu minim, sehingga orang tua juga merasa ragu menyekolahkan anaknya? Mungkinkan bukan saja pemerataan kesempatan tapi juga pemerataan fasilitas pendidikan anak juga perlu diperhatikan?
“Interupsi pak ketua. Sebelumnya mohon maaf, saya menjaga seorang anak lelaki di ibukota berusia 16 tahun. Orang tuanya sangat mampu. Anak yang saya jaga setiap hari kini ke sekolah dengan mobil mewah, membawa smartphone terbaru dan kartu kredit gold di dompetnya. Ia bersekolah di sekolah dengan fasilitas super mewah, namun apa lacur, tetap saja nilainya buruk dan orang tuanya mengeluhkan itu terus menerus.
Dan anak itu bukan satu – satunya paduka. Di sekolah tersebut juga banyak siswa yang standar keilmuannya rendah sehingga para guru pun mau tidak mau mengatrol nilai siswa – siswinya agar tidak kena labrak kepala sekolah yang begitu membanggakan sekolahnya itu.”
Begitukah? wah, yang miskin gagal. yang kaya juga gagal, apa jangan – jangan negri itu anak – anaknya bodoh semua ya?
Saat itulah, seorang malaikat lain berdiri mengangkat tangannya. Berbeda dengan 2 malaikat sebelumnya yang melapor dengan tatapan lesu selesu kebanyakan orang di bumi Indonesia ketika membicarakan pendidikan, malaikat ini mengangkat kepalanya tegak setengah angkuh, tersenyum dan berbicara dengan penuh semangat:
Anak yang saya jaga bukanlah orang berada. Keluarganya miskin. Sekolah pun meskipun di daerah ibukota hanya di sebuah sekolah pinggiran yang mungkin tidak jauh lebih baik dari gadis di cerita malaikat pertama. Ayahnya bukanlah orang yang pintar atau hebat. Masa mudanya Ia hanyalah buruh cetak di perusahaan koran dan kini Ia menjadi pengamen setelah dipecat akibat perusahaannya merugi saat krisis.
Walau begitu yang mulia, kebetulan saat muda Ia suka sekali membaca koran sisa hasil cetakannya. Ia membawanya pulang ke rumah dan membacanya bersama istrinya. Rubrik kesukaannya adalah rubrik berbau profil para tokoh. Ia selalu senang membaca kisah sukses para tokoh itu sambil berharap suatu hari Ia bisa sukses seperti mereka. Tapi apa daya, semakin Ia membaca semakin minder Ia terhadap hidupnya. Banyak sekali tokoh sukses yang Ia baca di koran, tapi sedikit sekali yang sukses tiba – tiba, kebanyakan dari mereka telah membekali dirinya dengan berbagai persiapan sejak muda, sesuatu yang Ia gagal lakukan.
Ketika Ia punya anak, di pikirannya hanya 1 kalimat: “anakku harus sukses, Ia tidak boleh memiliki hidup semenderita aku!”. Dan sejak itu Ia mencurahkan tenaganya untuk bekerja ekstra demi menyekolahkan anak – anaknya. Kemudian Ia juga menabung demi mengikuti program keluarga berencana, karena Ia berpikir bahwa menyekolahkan 1 anak itu berat, maka Ia tidak ingin punya anak terlalu banyak seperti saudara – saudaranya di kampung yang berpikir banyak anak banyak rejeki.
Ia tidak membacakan buku dongeng pada anaknya. Yang Ia bacakan adalah rubrik tokoh di koran kesayangannya. Satu hal yang Ia tanamkan pada anak – anaknya adalah “nak, kamu bisa punya kehidupan yang lebih baik dari bapak, tapi kamu harus mempersiapkan segalanya, terutama pendidikan kamu”
IQ anak – anaknya sebetulnya juga tidak jauh beda dengan si bapak. Mereka tidak begitu cerdas, tidak bisa menghitung perkalian 2 digit kali 2 digit di luar kepala dengan cepat. Namun inspirasi dari sang ayah dan dorongan dari sang ibu membuat mereka bertekad untuk belajar keras.
Dan sejauh yang saya lihat, perjuangan orang tua itu terbayar. Anak – anaknya bisa mendapat ilmu yang cukup meski memulai dari sekolah pinggiran. Ada 2 anak yang kujaga di keluarga itu. Si kakak sampai saat ini bisa mempertahankan prestasinya di 10 besar smp-nya, sementara si adik memang sedikit lebih pintar kerap menjadi juara kelas.
Lalu, apa kesimpulanmu dari cerita ini wahai malaikat penjaga anak – anak yang beruntung tersebut?
Jadi kalau boleh saya berpendapat paduka, sekolah memang hanya bisa memberikan ilmu. Banyak orang di bumi Indonesia yang tidak menyukai ini dan berpendapat harus ada pembimbingan moral di sekolah, namun menurut saya ini tidak tepat. Perlu diingat di bumi Indonesia, mencari guru yang bisa mengajar keilmuan dengan baik saja susah, apalagi yang bisa mengajar keilmuan dan moral?
Masih ada satu pihak yang sebetulnya punya peranan penting pada pendidikan anaknya. Masalahnya, orang tua dari anak – anak generasi sekarang juga menjalani usia sekolah 20-30 tahun yang lalu, dan saat itu pendidikan juga belum sukses. Saya tidak melihat pendidikan di bumi Indonesia ini gagal sekarang, yang saya lihat ya dari dulu memang belum sukses. Mendidik anak itu mudah, namun kalau orang tua dari anak tersebut tidak punya visi yang sama dalam mendidiknya, bisa menjadi sulit. Banyak orang tua tidak tahu seperti apa dunia karir saat ini, contoh mudah beberapa minggu lalu di bumi Indonesia gempar karena berita seorang anak sangat cerdas dipekerjakan menjadi tukang sapu karena orang tuanya mendesak si anak bekerja di tempat tersebut. Lalu kisah anak cerdas yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena orang tuanya mengarahkan ke pernikahan dini, bekerja membantunya atau malah karena saudaranya terlalu banyak sehingga dananya kurang juga kerap terjadi.
Paduka Educatiel, sejauh ini saya melihat, anak – anak di bumi Indonesia tidak termotivasi untuk belajar karena memang tidak diberikan gambaran yang baik mengenai masa depan yang bisa didapat oleh orang tua mereka. Maka dari itu, saya rasa apa yang bisa dilakukan bukanlah dengan memperbaiki sekolah atau mengganti model ujian, tapi memastikan anak – anak itu mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua mereka masing – masing, yaitu motivasi untuk menjalani pendidikan dan menjelaskan kepada orang tua mereka apa pentingnya pendidikan bagi anak – anak mereka, karena tanpa itu, mau semewah apapun kita bangun gedung sekolah di pedesaan tetap tidak akan ada gunanya.
Terima kasih atas waktunya dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam kata – kata saya.
Seketika itu seluruh hadirin sidang malaikat terdiam mendengar penuturan tersebut. Mereka mulai membayangkan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah masalah yang sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu. Masalahnya bukan pada dana, fasilitas, sistem atau kurikulum, tapi modernisasi visi masyarakat akan pendidikan dan juga penekanan akan pentingnya pendidikan itu sendiri, sesuatu yang terdengar sepele tapi rasanya berat sekali dilakukan.
RA Kartini, ABG Kritis di Balik Kebaya
“Peduli apa aku dengan segala tata cara itu … Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu …” - Raden Ajeng Kartini dalam suratnya kepada Stella, sahabatnya tahun 1899
Tahun 1964, Presiden Soekarno menetapkan seorang wanita ningrat asal Rembang bernama Kartini sebagai seorang pahlawan nasional, sekaligus menetapkan hari kelahirannya tanggal 21 april sebagai hari nasional dengan label sesuai namanya, yaitu “Hari Kartini”. Sejak penetapan 46 tahun lalu tersebut, kontroversi terus membalut pemberian gelar pahlawan nasional dan penetapan hari nasional tersebut. Menurut para penentangnya, masih banyak pahlawan nasional lain yang lebih berjasa daripada Kartini namun kenapa beliau yang harus mendapatkan penghargaan sebesar itu, bahkan Soekarno sang proklamator pun tidak mendapatkan jatah “Hari Soekarno” di dalam kalender kita.
Apapun itu, saat ini kita disodorkan nama seorang wanita yang sedemikian kuatnya nama tersebut hingga tercatat dalam kalender dan dilabeli sebagai “Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia”. Saat ini bahkan namanya kerap digunakan pembelaan bahkan pembenaran oleh banyak wanita ketika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Tidak sekali dua kali kita mendengar kata – kata seperti “kalau ibu Kartini melihat apa yang terjadi pada saya, beliau pasti menangis melihat apa yang telah diperjuangkannya tidak dianggap seperti ini!”
Sekarang pertanyaannya adalah, apa betul Ia akan menangis kalau melihat ada kejadian tersebut? Atau pertanyaan yang lebih dalam adalah, siapa sih sebetulnya Kartini? Apa sih yang dulu dilakukannya?
Kartini adalah putri seorang ningrat. Saat ia lahir, pemberlakuan politik etis di Indonesia telah mendorong lahirnya sekolah – sekolah untuk kaum pribumi, sehingga Ia pun sempat mengecap pendidikan dasar sampai usia 12 tahun, setara dengan usia lulus SD jaman sekarang. Pasca sekolah, Kartini harus mengikuti adat istiadat nigrat yang memingitnya sampai Ia menikah nanti, dimana Ia tidak lagi menempuh pendidikan formal, tapi menjalani pendidikan “bagaimana menjadi istri yang baik?”
Pada usia remaja (atau ABG kalau kata anak jaman sekarang) Kartini memiliki beberapa sahabat pena dari Belanda yang diajaknya bertukar pikiran melalui surat. Menginjak usia mendekati 20-an, atau usia mahasiswa kalau jaman sekarang, Kartini kian kritis dalam berpikir. Surat – suratnya kepada sahabat – sahabat penanya di luar negri banyak menuliskan keluhan dan kritiknya terhadap berbagai hal di sekitarnya, mulai dari aturan keluarga, adat istiadat, pola pengajaran agama sampai kehidupan pergaulan di sekitarnya.
Dua hal yang paling sering dikritik oleh Kartini adalah adat ningratnya yang menurutnya menyebalkan dan menghalangi kemajuan kaum perempuan, dan juga pola pengajaran agama Islam di daerahnya yang cenderung 1 arah, dimana sang guru mengajar, dan murid dilarang mempertanyakan. Menurut Kartini, bangsa pribumi perlu lebih dari sekedar laki – laki cerdas untuk maju, menurutnya, jika perempuan pribumi secerdas laki – laki pribumi, hasilnya akan jauh lebih baik untuk kemajuan bangsa, karenanya Ia mengutuk adatnya sendiri yang justru menghalang – halangi kemajuan tersebut padahal di saat itu bangsa pribumi tengah berusaha memajukan diri lewat pendidikan untuk menaikkan derajat mereka di mata asing, sebuah hal yang konyol ketika ada cara untuk membantu perjuangan tersebut malah dikekang adat menurutnya. Kemudian di daerah Kartini, tidak ada yang bisa berbahasa arab. Sementara Al Quran terjemahan saat itu dilarang karena dianggap menodai kesuciannya. Hal ini menyebabkan guru agama pun mengajar murid untuk menghafal saja tanpa boleh mempertanyakan lebih lanjut.
Pada usia 24 tahun, Kartini menikah, dan konon menjelang pernikahannya, sikap Kartini terhadap adat istiadat mulai berubah, dari yang menolak habis – habisan hingga mulai berpikir untuk melakukan kompromi untuk mencapai ambisinya. Dengan dukungan suaminya Ia membangun sekolah Kartini untuk kaum perempuan yang kelak diikuti oleh orang – orang yang simpatik pada perjuangannya.
Pada tahun 1911, Belanda mengumpulkan surat – surat Kartini dan menerbitkannya dalam buku fenomenal “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Banyak orang menganalisa sikap dan pemikiran Kartini lewat suratnya dan bacaan – bacaannya, perubahan sikap Kartini menjelang pernikahan pun ada yang menganggap adalah kontaminasi dari adat yang akhirnya tak kuasa ditahannya.
Namun bagi saya, ini adalah sebuah cerita sederhana. Kartini adalah seorang gadis ABG yang cerdas. Dan layaknya seorang ABG cerdas pada zaman ini pun, tidak dapat dipungkiri bahwa masa itu adalah masa dimana kita mempertanyakan semuanya, kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak begini saja, dan jutaan pertanyaan lainnya. Kebetulan, Kartini hidup di lingkungan yang memungkinkannya untuk bertindak. Ia memiliki koresponden – koresponden berpengaruh di Belanda, ayah yang kaya dan akses ke buku – buku pengetahuan yang banyak. Hal inilah menurut saya yang mendorong sedemikian luas dan kritisnya pemikiran Kartini dibanding wanita – wanita seusianya pada waktu itu. Kalaupun pada akhirnya kritiknya melunak, menurut saya itu bukan karena hasutan atau apa pun. Usianya menginjak pertengahan 20-an, menurut saya adalah wajar jika sikapnya yang menggebu – gebu dan penuh perlawanan itu melunak seiring dengan kedewasaannya dalam bersikap.
Bagi saya, Kartini adalah seorang gadis yang cerdas yang kebetulan memiliki fasilitas untuk melakukan sesuatu bagi apa yang Ia perjuangkan. Emansipasi hanyalah sebagian dari pemikirannya saja. Menurut saya, sikap paling penting yang ditunjukkan Kartini adalah kekritisannya, semangatnya yang tidak kenal lelah, semangat belajarnya yang tinggi dan kemauannya untuk bertindak. Dengan didukung dengen kecerdasan dan fasilitas yang Ia miliki, Ia sukses melakukan perubahan di wilayahnya lewat sekolah Kartini. Dan berkat publikasi tulisan tulisannya, Ia pun berhasil menginspirasi wanita – wanita untuk berjuang memajukan bangsa.
Jadi kalau ditanya apakah Ibu Kartini akan sedih melihat kejadian kesewenang – wenangan pada wanita dan diakhiri dengan statement seperti di atas, ini asumsi saya:
- Ia akan sedih karena dipanggil Ibu. plis deh, di masa jayanya beliau adalah seorang ABG, bahkan sampai meninggal beliau masih masuk hitungan kaum muda (25 tahun), untuk saya melabeli kata “Ibu” pada Kartini saja sudah merusak sosoknya sebagai kaum muda penuh semangat menjadi seorang ibu – ibu yang penuh perhatian
- Ia tidak akan sedih karena kejadian – kejadian tersebut. Kartini telah berjuang mengejar impiannya tujuannya adalah untuk memajukan bangsa, bukan memberikan kesempatan bermanja – manja dalam label emansipasi pada wanita jaman sekarang
So, pada intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa jika ada yang perlu kita contoh dari Kartini adalah semangat juang dan belajarnya yang tinggi. Beliau mengangkat istilah emansipasi sebagai sebuah senjata yang bisa memajukan bangsanya. Bahkan kalau mau ditilik lebih jauh, dengan kaum wanita jaman di kota jaman sekarang bebas bersekolah dan berkarir, itu sudah melampaui apa yang diinginkan Kartini. Kalaupun ada yang masih perlu diperjuangkan lewat emansipasi ala Kartini, itu adalah wanita – wanita di daerah yang masih dikekang adat dan mengurangi kesempatan mereka untuk maju.
Wow, Saya Menang Undian yang Bahkan Tidak Pernah Ada! :D
Kira – kira 2 minggu yang lalu, saya menerima sebuah sms ke ponsel saya, isinya:
“SLMT!! No_anda Men_dpt hadiah Rp,35-juta dari PT.XL.COMINDO diundi tdi malamdi. ANTV pkl:22:00U/ info hubungi:0878-4129-3508 (Inggit Indarto)
Pengirim:
+818″
ya sebetulnya sekilas juga ketauan sih kalau ini hanyalah sms penipuan, perhatikan beberapa point dari sms di atas:
- Saya menang undian dari PT XL.COMINDO, hmm, itu perusahaan apa ya? yang saya tau sih sekarang saya menggunakan jasa operator seluler dari PT Xl Axiata, yang nama lamanya adalah Excelcomindo Pratama, itukah yang dia maksud, satu hal yang pasti nama perusahaannya saja sudah salah
- Semalam dilakukan pengundian langsung di TV tapi saya gak langsung ditelpon? ngapain terus harus diundi di TV?
- Perhatikan bagian textnya yang menyatakan “pengirim: +818″ well, sebetulnya sih ini trik untuk mengelabui handphone nokia seri lama, dimana pengirim pesan ditulis dengan format seperti itu tepat di bawah pesannya, dan dengan menggunakan kata “pengirim” alih – alih “sender”, berarti jelas yang paling coba ditipu adalah orang yang menggunakan handphone nokia keluaran lama, menggunakan bahasa Indonesia di ponselnya dan tidak tahu bahwa nomer khusus operator itu tidak memerlukan kode internasional, jadi harusnya gak perlu tanda “+” (harusnya 818)
Nah, secara saya lagi agak iseng, saya pikir saya bisa sedikit menaikkan tensi permainan, kali2 aja dia bakal minta transfer, minta dibacakan nomer rekeningnya, nah lalu saya bisa blackmail balik deh, dia yang transfer ke saya atau saya laporin sama orang dalem bank supaya accountnya ditutup
Akhirnya, saya sms ke nomer yang disebutkan itu:
“Siang pak Inggit, Saya barusan mendapat informasi bahwa saya mendapat hadiah undian dan saya harus konfirmasi ke bapak, betul saya harus kontak anda?
dan dibalas:
“Hub.ngi kami Pak!”
karena saya pikir ngapain buang2 pulsa hanya untuk meladeni penipu ini, saya balas saja:
“Wah, pulsa saya sedang tidak cukup untuk menelpon
kalau besok masih bisa pak?”
Saya sih expectnya dia yang menelpon saya, dan kira – kira 30 menit kemudian, nomer tersebut menelpon saya, berikut adalah obrolan seru kami di telpon:
Intinya adalah, kalau melihat dari cara sms, kecepatan menanggapi situasi dan pengetahuannya, dugaan saya sih yang saya telpon bukanlah orang yang terlalu terpelajar, tapi melihat dari pola pencuriannya, kata – katanya yang cukup terstruktur, jadi kalau dugaan saya, ini adalah organized crime, ada bosnya yang melatih beberapa anak buah untuk melakukan penipuan.
Dan jelas bahwa kalau anda niat melakukan pelatihan seperti itu, pasti ada investasi yang lumayan yang anda lakukan, dan tidak mungkin berhenti begitu saja, jadi dugaan saya model penipuan semacam ini adalah sebuah tindak kriminal terstruktur yang akan terus berlanjut, bahkan bukan tidak mungkin penipunya dari dulu sampai sekarang adalah orang – orang yang sama hanya modelnya saja yang terus berkembang, dulu beresiko karena membacakan nomer rekening, sekarang hanya lewat voucher pulsa yang bisa dijual lagi, maka dari itu, waspadalah! waspadalah!
Racun – racun baru telah ditemukan dalam laboraturium mailing list, waspadalah!
“Informasi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Saat ini sedang ada wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang. Jangan minum produk : extra joss, M-150, kopi susu gelas, Kiranti, Krating Daeng, Hemaviton, Neo Hormoviton, Marimas, Hore, Frutillo, Segar Sari, Pop Ice, Segar Dingin Vit C, Okky Jelly Drink, Inaco, Gatorade, Nabati, Adem Sari, Naturade Gold, Aqua Splash. Karena mengandung Aspartame racun yang menyebabkan diabetes, kanker, dan bisa mematikan, sebarkan pesan ini kepada orang – orang terdekat anda.”
Merasa mengenal paragraf di atas? Beberapa minggu yang lalu sebuah SMS berisikan pesan tersebut masuk ke ponsel saya dan kebetulan juga masuk ke ponsel seorang teman yang sedang berada di dekat saya saat itu. Teman saya itu seorang wanita yang kadang emang suka panikan, jadi bisa dibayangkan dong seperti apa reaksinya?
Tanpa pikir panjang Ia heboh, kemudian melisting produk – produk mana saja yang Ia konsumsi dari daftar tersebut sambil diikuti ekspresi campuran sesal, bingung dan berharap dirinya akan baik2 saja, tanpa memikirkan sisa pulsa di ponselnya, dia langsung bersiap memforward SMS yang cukup panjang itu. Sepengelirikan saya sih dia sudah beberapa belas kali menekan tombol “add recipient” di ponselnya ketika saya menunjukkan 2 page ini:
- http://www.idionline.org/2010/03/rumor-bahaya-aspartam-bukan-statement-idi/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Aspartame_controversy#Activism_and_internet_rumors
Berbeda dengan teman saya yang heboh ketika menerima sebuah pesan berantai, saya lebih suka membuka browser saya dan meng-google kebenaran dari pesan yang saya terima, hasilnya? paling tidak saya tidak perlu buang – buang pulsa untuk menyebarkan sebuah pesan yang salah ke rekan – rekan saya, dan saya tetap bisa mengkonsumsi minuman – minuman tersebut tanpa ketakutan tak berdasar :p
Ya, salah satu model hoax yang banyak beredar juga adalah hoax mengenai zat – zat racun dengan berbagai cerita bombastis yang menakut – nakuti pembacanya. Ini adalah contoh lain dari hoax yang juga sempat menghebohkan salah satu milist yang saya ikuti:
Nice info sisThanks for shareWahhh, bahaya banget ya… mesti hati – hati nih…
Sebetulnya saya langsung ingin langsung meloncat ke bagian penyimpulan dari tulisan ini, tapi saya gak tahan untuk menshare satu lagi hoax seputar racun ini disini, boleh kan? (boleh lah, masa nggak
)
Hoax ini membahas mengenai sebuah zat bernama “Dihydrogen Monoxide”, berikut adalah deskripsi mengenai zat tersebut:
“Dihydrogen monoxide:
- is called “hydroxyl acid”, the substance is the major component of acid rain.
- contributes to the “greenhouse effect”.
- may cause severe burns.
- is fatal if inhaled.
- contributes to the erosion of our natural landscape.
- accelerates corrosion and rusting of many metals.
- may cause electrical failures and decreased effectiveness of automobile brakes.
- has been found in excised tumors of terminal cancer patients.
Despite the danger, dihydrogen monoxide is often used:
- as an industrial solvent and coolant.
- in nuclear power plants.
- in the production of Styrofoam.
- as a fire retardant.
- in many forms of cruel animal research.
- in the distribution of pesticides. Even after washing, produce remains contaminated by this chemical.
- as an additive in certain “junk-foods” and other food products.”
umm, sebetulnya sih hoax ini gak salah – salah amat, karena toh sebagian besar statement tersebut memang menggambarkan deskripisi dari si Dihydrogen Monoxyde tersebut, tapi karena dibungkus sedemikian rupa, email ini terasa begitu menyeramkan.
Padahal? well, saya rasa anda sudah tahu bahwa itu hanyalah sebuah joke, kalau belum mari saya jelaskan
dalam penamaan zat kimia, Dihydrogen berarti zat tersebut memiliki 2 atom hidrogen, Monoxyde berarti memiliki 1 atom oksigen. Zat apa yang memiliki 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen? Tentu saja H2O alias air
ya, gak salah juga sih pesan tersebut karena point – point tersebut memang menggambarkan ciri – ciri air
Okay, jadi kesimpulannya adalah.. kalau anda menerima informasi akan adanya sebuah zat beracun baru yang ditemukan atau semacamnya, hal inilah yang perlu anda lakukan:
- Jangan panik
- Jangan langsung membalas thread/memforward/mengRT hal tersebut
- Lakukan pencarian internet mengenai informasi tersebut, caranya, gunakan query ini di google: hoax <nama racun dalam pesan> <nama organisasi terkait dalam pesan (optional)> wiki(optional), contoh: hoax burundanga wiki, hoax aspartam IDI, hoax dihydrogen monoxyde wiki
- Jika anda menggunakan pencarian ke wikipedia, dan anda menemukan penjelasan racun tersebut terlibat hoax, coba pelajari baik – baik halaman tersebut, pelajari prilaku zat tersebut, kemudian lakukan cross check terhadap referensinya valid atau tidak
- Jika anda menemukan pembahasan hoax tersebut di situs2 anti hoax, biasanya itu betul adalah hoax
- Jika anda telah memastikan itu adalah hoax, maka kini anda boleh merespon pesan tersebut dan jelaskan pada rekan anda yang mengirimi pesan tersebut bahwa itu adalah hoax dan berhentilah menyebarkannya
Sekian tulisan saya kali ini, semoga saja bermanfaat bagi kita semua


