IPK, organisasi atau pengalaman kerja, mana yang lebih penting?
“percayalah IPK bukan segala-galanya.. banyak temen gw yang bisa sukses meskipun IPKnya kecil” – taken from a post @kaskus
Index Prestasi Kumulatif, sebuah tolok ukur paling gamblang untuk menggambarkan prestasi seseorang semasa Ia kuliah. Akhir – akhir ini saya mencermati adanya sebuah fenomena yang memperdebatkan mengenai peluang sukses seseorang jika dilihat dari IPK kelulusannya semasa mahasiswa. Banyak yang bilang bahwa IPK itu menggambarkan kualitas diri seseorang, sehingga nilai IPK seseorang adalah gambaran representatif akan masa depannya. Di sisi lain, tidak sedikit yang membantah dengan segudang cerita bahwa banyak orang ber IPK tinggi menganggur dan sebaliknya, orang ber IPK rendah tapi sukses dalam karirnya.
Bagi sebagian besar anak kuliahan, IPK, pengalaman organisasi dan pengalaman kerja adalah 3 hal yang secara turun – temurun digadang – gadang dari senior ke junior sebagai target utama dalam masa kuliah, karena kedua hal tersebut nantinya akan menjadi patokan masa depan yang akan didapatkan pasca lulus kuliah. Saya sendiri ketika jaman menjadi mahasiswa juga tidak tahu banyak mengenai seberapa penting ketiga hal tersebut dalam karir saya nantinya, jadi akhirnya saya hanya asal tebas saja apa yang ada di depan mata saya
Kembali menyorot ke ketiga “parameter kesuksesan” mata kuliah tersebut, sebetulnya seberapa penting sih ketiga hal tersebut? Menurut saya, pentingnya hal – hal tersebut dapat bergantung pada beberapa hal, salah satunya adalah target apa yang ingin kita raih pasca lulus kuliah. Nah, karena kini saya sudah dapat melihat lebih jelas, saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai apa saja sih yang bisa anda raih dengan pencapaian anda saat ini
IPK Cum Laude ( di atas 3,5, gak pernah ngulang, lulus tepat waktu)
Konon, jadi lulusan Cum Laude adalah impian setiap mahasiswa. Hanya mahasiswa cerdas dan pekerja keras yang bisa mencapainya. Konon juga, masa depan bagi para cum lauders ini sangat menjanjikan. Namun, sepengetahuan saya, hanya ada sedikit cakupan masa depan yang menuntut anda untuk cum laude, antara lain:
- mengambil beasiswa pasca sarjana dari universitas top dunia
- melamar pekerjaan super elit, biasanya ditawarkan oleh perusahaan multi nasional dan mendapat jalur karir yang lebih cepat ( biasanya anda juga membutuhkan pengalaman organisasi yang memadai untuk hal ini )
- melamar anak professor untuk dinikahi
di luar itu, setahu saya tidak ada lagi tuntutan cum laude dari dunia karir atau akademis, jadi kalau anda tidak menargetkan hal tersebut, sebaiknya tidak perlu ngotot mengejar gelar tersebut
IPK Sangat Memuaskan (di atas 3)
Di bawah cum laude, standar IPK di atas 3 konon adalah batas seseorang dapat digolongkan cerdas atau tidak semasa kuliahnya dulu. Biasanya batas ini juga menjadi tolok ukur bagi sebagian besar orang tua untuk menilai anaknya sukses atau tidak. Namun, seperti halnya kasus cum laude tadi, sebetulnnya hanya sebagian masa depan yang membutuhkan nilai sekian, antara lain:
- melamar menjadi PNS di instansi bergengsi, misalnya Bank Indonesia, Badan Pengawas Keuangan, dll
- melamar pekerjaan dengan percepatan jalur karir, misalnya posisi Management Trainee di perusahaan top
- mengambil beasiswa di luar negri
- melamar pekerjaan sesuai skill teknikal mata kuliah di perusahaan berskala nasional sebagai fresh graduate
Jadi, saya rasa kalau ada yang bilang IPK itu tidak penting, saya rasa tidak juga, karena ada pilihan – pilihan jalur masa depan yang harus dicapai dengan IPK tertentu. Namun, kembali ke permasalahan awal, jika hal – hal yang saya sebutkan di atas salah satunya adalah target anda ya berarti IPK adalah syarat mutlak yang harus anda kejar
Pengalaman organisasi kelas berat ( ketua BEM/Senat dkk )
Selain IPK, konon pengalaman organisasi adalah sebuah parameter yang juga sangat dilihat ketika seorang lulusan universitas melamar pekerjaan. Konon, makin tinggi jabatannya semasa organisasi, makin besar peluang dapat kerja, namun apakah begitu? Beberapa orang memang terobsesi pada dunia politik kampus hingga mengejar jabatan habis – habisan, namun jika tujuannya adalah dipajang di CV, menurut saya ada baiknya mempertimbangkan kembali, karena setau saya satu – satunya masa depan yang meminta anda untuk berorganisasi kelas berat adalah:
- menjadi politisi muda dan menarget mencapai kursi legislatif dalam waktu singkat
Di luar itu? setahu saya sih tidak ada, jadi kalau anda menargetkan jabatan di kampus hanya untuk dipajang di CV tapi tidak berencana berpolitik sejak dini, ada baiknya anda pikir – pikir lagi deh
Pengalaman Organisasi Memuaskan ( sering ikut, pernah jadi kepala seksi di kepanitiaan, etc )
Nah, kalau untuk yang ini saya rasa bukan target yang sulit. Kalau dulu di kampus saya, berorganisasi itu mudah. Ada puluhan kepanitiaan di seantero kampus yang bisa diikuti, mendapatkan 1 tidak sulit donk?
menurut saya kadar pengalaman organisasi ini adalah yang paling pas, namun sayangnya untuk mendapatkan “kesempatan – kesempatan” spesial seperti kategori sebelumnya biasanya juga menuntut IPK yang memadai. Biasanya kebanyakan pekerjaan yang menuntut pengalaman organisasi memadai adalah pekerjaan berbau percepatan karir seperti Management Trainee. Namun, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, anda perlu memiliki IPK yang cukup baik juga
Jam Terbang Kerja Yang Tinggi
nah, kalau anda punya hal ini dan skill yang mumpuni, sebetulnya anda dapat melamar langsung untuk posisi senior, tidak harus memulai dari jalur fresh graduate, karena toh anda sudah punya pengalaman. Permasalahan utama yang dihadapi para fresh graduate adalah tanpa pengalaman kerja, pekerjaan bagus yang bisa mereka masuki terbatas sekali, kecuali memiliki nilai lebih seperti IPK tinggi atau pengalaman organisasi memadai, mereka harus memulai benar – benar dari bawah.
Namun, mengandalkan jam terbang tanpa IPK atau pengalaman organisasi juga ada kelemahannya. Yang pasti posisi – posisi yang sebelumnya saya bahas nyaris tidak mungkin anda masuki. Saya belum pernah mendengar ada beasiswa kelas dunia yang meminta pengalaman kerja sebagai salah satu syaratnya. Tapi, anda tidak perlu lagi melamar untuk jabatan “junior”, jadi anda tidak akan mengalami masa – masa menjadi fresh graduate
Sisanya…
Tenang brur, hidup anda tidak berhenti sampai disini kalau memang anda gagal mendapatkan satu pun dari pencapaian – pencapaian di atas. Anda memang mungkin akan mengawali karir dari posisi yang lebih di bawah dari orang dengan pencapaian – pencapaian tersebut, namun… dalam 4 – 5 tahun, anda akan berubah posisi menjadi “pekerja berpengalaman”, dan selanjutnya pengalaman, kerja keras dan skill andalah yang akan menentukan nasib anda. Mungkin benar ketika menjadi fresh graduate anda tidak lebih mudah dibanding mereka, namun dengan kerja keras, bukan tidak mungkin karir anda melesat kencang.
_________
So, itu saja yang ingin saya bagi, diskusi ini awalnya bermula dari ide bung Ilman Akbar untuk membuat artikel mengenai perbedaan dunia kerja dan dunia kuliah. Semoga saja artikel ini dapat bermanfaat bagi anda dalam menyusun masa depan anda
Terharu…
oscar
Januari 12, 2010 pada 4:32 pm
lho kok terharu? xD
Rizky Andriawan
Januari 12, 2010 pada 4:34 pm
Menurut gw,
. Dengan adanya blueprint, when sh*t happens, you know how to fill in the blanks.
Pemikiran lo kebalik, bukan karena building blocksnya seperti apa lalu kita mengkompensasi dengan membangun gedung yang sesuai.
Tapi dengan membuat blueprint – blueprint gedung kita dahulu (Mengingat orang pasti punya banyak passion), kemudian sesuaikan building blocksnya
Arudea
Januari 12, 2010 pada 7:04 pm
nggak kok ru, gw disini tidak menjelaskan soal arah pemikiran mana yang harus lebih dulu dipikirkan antara blueprint dan building blocks
kalaupun gw membagi tulisan gw berdasarkan “modal” yang harus diraih dan menjelaskan apa yang bisa diraih dengan modal tersebut, itu hanya untuk kepentingan penulisan semata agar lebih sistematik, karena kalau gw menggolongkan berdasarkan target baru kemudian gw jelaskan modal yang dibutuhkan akan terjadi banyak redundansi di penulisan artikel ini nantinya
Rizky Andriawan
Januari 13, 2010 pada 2:24 am
Mestinya editorial lo bisa menganjurkan kalau hidup itu mesti ada cita-citanya, bukan go with the flow
Cuma opini pribadi gw aja kok
Arudea
Januari 13, 2010 pada 6:38 am
make sense sih sebetulnya tapi gw kemaren emang kebentur di muatan yang bakal sangat banyak dan beragam kalo nulis seperti itu…
hmm, nanti gw bikin lagi deh tulisan berikutnya mengenai penetapan target dan usaha pencapaiannya dengan parameter yang mengacu ke post ini
mau bantu saya mengenumerasi ketagori – kategori target tersebut?
Rizky Andriawan
Januari 13, 2010 pada 6:44 am
Klo yang “IPK tinggi” aja nganggur, gimana nasibnya yang “IPK setengah tinggi” ya?
Yang paling ideal menurutku ya 80% target IPK sisanya buat yang lain dah….
Kalaupun “Jago” ini itu tapi syarat administrasi (Nilai IPK) g’ sampai. ya sama aja boong.
Klo g’ jadi pengangguran ya jadi pengusaha
Eky Dakka
Februari 21, 2010 pada 4:41 am
yup, itu dia maksud saya
Rizky Andriawan
Februari 21, 2010 pada 5:05 am
BTW, udah g’ sopan neh.. Postingan ini aq repost di blog-ku tapi sudah aku kasih link ke postingan ini. Klo keberatan nanti aku hapus deh..
Thanks..
Eky Dakka
Februari 21, 2010 pada 4:49 am
silahkan
Rizky Andriawan
Februari 21, 2010 pada 5:05 am
gan,,, kalo di kampus ane….
sebagian yang ikut organisasi itu….
udah tergolong orang yang otaknya diatas rata2… (IP >3,3)…
dan sebagian yang kerja (magang…dll) itu sama juga… nilainya diatas rata2…
ane setuju sama pendapat mas/mbak arudea….
Orang-orang seperti itu harus punya blueprint…
mereka membuat target yang sesuai dan logis bagi mereka…
inlerner
September 4, 2010 pada 3:03 pm
Artikel yg menarik dan menghibur orang2 yg berada di golongan inferior bahwa mereka pun juga masih punya kesempatan untuk meraih kesuksesan walaupun ngga bisa jadi ketua BEM/SENAT atau IPK di atas 4.0 (emang bisa yah haha).
Yg penting kerja keras dan ketekunan masih ada di dalam kepribadian mereka, betul?
dan juga bagi orang2 yg “berjaya di organisasi” atau “ipk cumlaude”, semoga mereka tidak menjadi sombong / narsis dengan achievement yg didapat. Walau memang memberi nilai lebih, tapi achievement itu tidak menjadi penentu berhasil/gagalnya hidup.
Orang2 memang mesti punya blueprint, sebagai arah motivasi hidup, namun blueprint yg dipasang ngga mesti cuma 3 hal itu… Banyak kok hal2 lain yg bisa dijadikan blueprint dan beda orang beda blueprintnya harus dihargai, karena beda orang beda jati dirinya. Ga boleh dipaksakan, juga ga etis meng-superior-kan blueprint kita ke orang lain.
hope
Februari 8, 2011 pada 2:27 pm