Uncategorized

Alay dan identitas diri

“Alay itu ya orang – orang norak itu! yang sok tahu soal musik, rambutnya sok emo, namanya sok dianeh – anehin, dan fotonya dari sudut miring!”

Yap, alay.. sebuah istilah baru yang akhir – akhir ini kerap kita temui di berbagai media sosial sebagai sebuah cemoohan pada sebuah kategori masyarakat yang diidentikkan dengan berbagai hal negatif, mulai dari norak hingga kampungan. Sejauh ini, saya belum menemukan secara pasti sejarah dan definisi terbentuknya stigma alay tersebut dalam masyarakat, ada yang bilang alay itu berawal dari istilah “Anak Layangan”, cemoohan pada pemuda pinggiran yang kulitnya dekil dan berambut merah karena kepanasan seperti main layangan , ada juga yang bilang istilah alay itu berawal dari istilah “Anak Lebay”, yang konon dialamatkan pada cara bicara abg 2-3 tahun lalu yang kerap menggunakan penekanan nada suara berlebihan ketika bicara (contoh: “ya gitu deh..” –> “yha getho dehh!!”).

Manapun yang benar, saya rasa telah banyak pergeseran makna yang diterima oleh istilah alay tersebut yang makin lama kian meluas definisinya. Jika anda pernah mencoba mencari mengenai definisi alay di google, saya yakin anda akan menemukan beberapa tulisan serupa yang direpost terus menerus sambil ditambah – tambahi dari blog ke blog dan forum ke forum yang berisi sekitar 10 point yang mencirikan ke-alay-an seseorang, mulai dari selera musik, gaya rambut, cara menulis hingga diasosiasikan dengan tokoh “Anak gaul menengah ke bawah” di buku 100 tokoh yang mewarnai Jakarta karya Beny & Mice. Saking lebarnya perluasan kriteria alay sendiri di masyarakat, kini bukanlah sesuatu yang ajaib jika kita menemui banyak sekali hal – hal yang diasosiasikan dengan alay, mulai dari band alay, musik alay hingga operator seluler alay.

Alih – alih memikirkan mengenai batasan – batasan ke-alay-an seseorang/band/handphone/apapun, dalam tulisan kali ini saya lebih tertarik untuk menelaah lebih dalam mengenai esensi dari kriteria – kriteria alay tersebut, taruhlah dalam hal ini kita coba ambil beberapa kriteria yang umum disebutkan:

  • dalam mengambil foto close up, selalu diambil dari sudut agak miring, hal ini dapat membuat wajah terkesan lebih cool dan menutupi bentuk wajah yang kurang menarik jika diambil dari depan
  • dalam menulis, tulisannya berhuruf di-imut-imut-kan dan ditambahi bahasa-inggris-bahasa-inggrisan mungkin agar berkesan cerdas dan cute
  • di situs jejaring sosial menggunakan nama palsu yang berbau luar negri, menakutkan atau lucu, contoh: “Marco Jahanam” atau “Bella Cute”
  • masih di situs jejaring sosial, memiliki teman yang banyak sekali, bahkan akhir – akhir ini di jejaring sosial Facebook muncul sebuah fenomena orang – orang yang dikategorikan alay memiliki daftar saudara kandung (sibling) yang juga sangat banyak

Secara garis besar, dari semua definisi alay yang beredar, terutama untuk yang beredar di media sosial, menurut saya keempat point tersebut cukup umum diterima oleh masyarakat. Dari keempat point tersebut, saya melihat ada sebuah garis merah yang melatar belakangi semua fenomena tersebut yang jika disebut secara singkat adalah sebuah kata sederhana, yaitu: “sok”.

“Sok”, ya menurut saya kata itu adalah benang merah dari semua prilaku alay. Namun, “sok” disini bukan saya artikan sebagai sombong, tapi lebih ke “sok” yang biasa diucapkan sebagai “sok-sok” alias bertingkah seolah -olah. Saya melihat bahwa semua prilaku ke-alay-an tersebut pada akhirnya memang berpola sama, yaitu bahwa para alay tersebut berusaha menunjukkan sesuatu yang bukan merupakan bagian dari diri mereka yang sebenarnya. Dan, prilaku – prilaku tersebut biasanya muncul pada diri seseorang dengan didasari oleh rasa kurang percaya terhadap jati diri sendiri.

Ada 2 golongan yang sangat – sangat sering diidentikkan dengan alay, yang pertama adalah masyarakat marginal, yang kedua adalah ABG. Jika dilihat dari kedua golongan tersebut, saya rasa adalah lumrah jika saya menduga bahwa fenomena tersebut memang berangkat dari masalah kekurangan percaya diri, karena ABG dan masyarakat marginal adalah kaum yang sangat – sangat rentan terhadap sindrom krisis identitas diri. Mereka adalah orang – orang dengan berbagai ekspektasi akan masa depan impian yang merasakan banyak sekali benturan dalam diri mereka untuk mencapai ekspektasi tersebut. Perasaan terbentur oleh keterbatasan diri tersebut sangat wajar mengakibatkan depresi akan identitas, dan saya rasa juga itu sebabnya kenapa musik – musik yang diidentikkan dengan alay biasanya adalah musik dengan aroma depresi, putus asa, patah hati dan lain sebagainya.

Secara mudah, jika saya mencoba mereka bagaimana proses seseorang menjadi alay mungkin seperti ini:

  1. Seorang remaja atau masyarakat marginal melihat banyak sekali contoh masyarakat yang “keren”
  2. Kemudian, mereka ingin menjadi seperti orang – orang keren tersebut, berpenampilan menarik, memiliki pasangan yang juga menarik, dan hidup dikelilingi benda – benda yang juga keren
  3. Keterbatasan diri mereka membuat mereka merasa minder, namun keinginan untuk menjadi keren tetap ada
  4. Keinginan itu diwujudkan dalam berbagai hal, foto yang diatur sedemikian rupa hingga terlihat bagus, gaya dandanan yang berusaha mengikuti orang – orang yang dipuja, sampai menggunakan nama yang lebih berkesan catchy
  5. Namun, tetap dalam diri mereka, rasa depresi itu ada, dan itu tergambar dari musik yang mereka dengar, bukan rahasia jika band – band yang dicap alay seperti kangen band sebagian besar lagunya adalah lagu putus asa, putus cinta dan lain sebagainya
  6. Efek lain dari krisis identitas diri salah satunya adalah over acting, yang kini telah berevolusi menjadi over segalanya atau biasa disebut lebay, jadi menurut saya tidak salah jika alay diidentikkan dengan lebay
  7. Selain itu, depresi dari sindrom identitas diri sangat memungkinkan seseorang menjadi sensitif dan mudah tersinggung, maka saya tidak akan heran jika ada alay yang membaca post saya ini dan marah – marah๐Ÿ˜›

Nah, kurang lebih itu adalah ulasan yang saya lihat dari fenomena ini, jadi pada intinya saya memandang bahwa alay, apapun definisinya berawal dari sebuah sindrom krisis identitas diri yang memang kerap terjadi pada ABG dan masyarakat marginal, 2 golongan yang kerap diidentikkan dengan alay. Namun, sekali lagi ini hanyalah sekedar opini pribadi saya, bisa benar, bisa juga salah… kalau menurut anda?๐Ÿ˜‰

13 thoughts on “Alay dan identitas diri

  1. hmm.. biarkan sajalah yg mau beralay-alay ria…
    mau krisis mau ga ya biarkan sajalah…

    setiap orang punya fase nya sendiri..
    “gitu aja kok repot ..??”๐Ÿ™‚

  2. Gw setuju sama lw. Menurut gw, orang yang alay itu ngerasa ga pede sama jati dirinya sendiri (yang menurutnya biasa-biasa saja), dan baru merasa pede kalau sudah di-alay-kan. Dengan kata lain, ‘alay’ di sini bermanfaat untuk menarik perhatian orang-orang. Kalo ga alay, mungkin si Alay-man ini ngerasa dirinya gak bakal diperhatiin sama siapa-siapa.
    Padahal.. Menurut gw, kalau seseorang bertingkah alay, semakin alay, semakin sengaja alay-alay, semakin bangga meng-alay-alaykan diri, makin turunlah nilai martabak-nya di mata gw. Malu-maluin.. Bikin ilfil ajah.. Mending beli martabak mesir deh, hehe..๐Ÿ˜›
    Btw, orang alay dan lebay, bedanya di mana ya?

  3. Alay memang jadi istilah populer akhir-akhir ini; jadi trend..entah siapa yang mempopulerkan. Di satu sisi, tampak seperti suatu kebebasan mengekspresikan diri, namun saya setuju jika hanya beda-beda tipis dengan krisis identitas diri. Tergantung masing-masing orang untuk menilai.
    Menurut saya, sebutan ‘alay’ itu hanya perilaku remaja yang aneh-aneh..bukan makian, bukan pula hinaan. Jadi jangan tersinggung jika kita disebut ‘alay’..๐Ÿ˜‰
    Yang penting jadilah dirimu sendiri, be your self..!
    Buat Blog

    1. yup, be yourself memang sebuah solusi paling mujarab untuk prilaku alay dan krisis jati diri…
      namun, IMO soal cacian dan makian sih tidak bisa dipungkiri adanya, kalau anda pernah mencoba melihat lounge di forum kaskus mungkin anda bisa melihat betapa banyaknya thread yang yang mengatai alay๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s