Uncategorized

“Never complain, Never explain”

“In general use, a complaint is an expression of displeasure, such as low quality service at a store or an incondusive work place” – wikipedia (ded*)

Mengeluh adalah sebuah ekspresi yang sering sekali dilakukan oleh manusia. Rasanya setiap hari kita selalu mendengar ada saja orang yang mengeluhkan berbagai hal, mulai dari jalanan macet, pekerjaan menumpuk, kesejahteraan yang kurang sampai pada kehidupan sosial yang kurang harmonis. Dan menurut pandangan beberapa psikolog, mengeluh adalah wajar dilakukan manusia, karena ekspresi tersebut adalah ekspresi alamiah dari mamalia, dimana kebanyakan mamalia memang biasa memekik ketika mengalami masalah, entah kesakitan atau stress.

Dari sekian banyak yang dikeluhkan seseorang, sebagian di antaranya adalah keluhan mengenai kehidupannya, mencakup pekerjaannya, kehidupan personalnya, sampai masalah kesehatannya. Keluhan – keluhan jenis ini, konon dapat memiliki 3 buah arti, yaitu:

  • Permintaan tolong, bahwa Ia tengah mengalami masalah dan butuh bantuan
  • Pencarian simpati, bahwa Ia memiliki sebuah konsep ideal mengenai hidupnya dan telah berusaha keras namun gagal
  • Mencari pihak yang dapat disalahkan atas ketidak beruntungannya dan lari dari tanggung jawab

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah, bahwa saya melihat akhir – akhir ini, banyak sekali orang yang saya lihat menggunakan keluhan sebagai sarana penarikan simpati, karena lewat keluhan – keluhannya mereka menggambarkan bahwa mereka adalah orang – orang yang telah bekerja keras memenuhi tuntutan profesinya namun terhambat oleh satu dan lain hal, sehingga akhirnya secara halus mereka mengatakan bahwa yang salah adalah hambatan – hambatan tersebut.

Entah sudah berapa kali saya melihat fenomena – fenomena seperti itu di berita – berita televisi maupun media digital. Di satu sisi saya mengerti bahwa hal tersebut memang sebuah strategi super ampuh untuk mendapatkan simpati dari masyarakat, terlebih kita sama – sama tahu bahwa bukan sekali dua kali kontes bakat berbentuk reality show di negara ini dimenangkan oleh kontestan dengan keluhan yang terdalam alih – alih kontestan dengan bakat paling besar.

Tapi saya tadi teringat akan sebuah quote terkenal dari Henry Ford II, yaitu:

“Never complain, Never explain”

Kalimat tersebut adalah sebuah prinsip dasar kepemimpinan yang dijunjung oleh HF2. Menurutnya mengeluh menunjukkan kelemahan seorang pemimpin, karena pada dasarnya, mengeluh adalah luapan dari frustasi dalam diri. Mengeluh bagi seorang pemimpin adalah sama dengan menunjukkan bahwa Ia tidak mampu menunaikan semua amanat yang diembannya, dan terlebih lagi mengeluh bagi seorang pemimpin menunjukkan bahwa Ia adalah pemimpin yang cari selamat dengan mencari alasan, cenderung menyombongkan usaha kerasnya dan menyalahkan hal lain atas masalahnya.

Saya sih tipe orang yang berprinsip seperti HF2 mengenai hal tersebut. Saya bukan orang yang mudah simpatik, bagi saya kualitas adalah kualitas. Namun begitu, saya maklum saja kalau memang sebagian besar masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat baik hati dan memiliki rasa empati yang tinggi terhadap orang yang mengeluh, tapi yaaahhh…. coba deh pikir baik – baik, apakah para pengeluh itu pada akhirnya memberikan hasil yang memuaskan pada anda semua? Lihat saja para juara kontes bakat yang menang lewat keluhan kemiskinannya itu, berapa banyak yang akhirnya menghasilkan karya yang memuaskan anda?

nah, kira – kira dapat dimengerti kan maksud saya?🙂 namun seperti halnya semua tulisan saya sebelumnya, ini hanya opini pribadi saya, kalau menurut anda?🙂

*ded: di edit dikid😛

7 thoughts on ““Never complain, Never explain”

  1. “dua kali kontes bakat berbentuk reality show”
    apaan yah? emang ada? =P
    ~eniwei, keluhan itu wajar adanya, dan gw juga termasuk yg ndak terlalu suka dengan yg bagi2 keluhan, soalnya bisa menular…
    Tapi ya, terkadang emang butuh dukungan juga sih kalo misalnya lagi ada masalah dan butuh teman2 yg bisa menghibur, so tergantung sisi pandang masing2 juga sih

    ~nice post gan!

    1. reality show yang dimenangkan dengan mengeluh? contoh paling simple adalah waktu v*ri berhasil jadi juara AF* jilid pertama dulu😛

      keluhan memang wajar, seperti yang gw tulis itu naluri alamiah bawaan nenek moyang mamalia… tapi… saking wajarnya hal tersebut kerap di-abuse sama orang untuk menarik simpati dan menyalahkan orang lain, nah itu yang menurut gw kurang baik😀

  2. Gw gak mau sok muna deh. Hehe. Gw tipe orang yang suka mengeluh juga, walopun gw tau mengeluh adalah salah satu ciri-ciri orang yang tidak dewasa.
    Di samping ketiga alasan yang lw kemukakan tadi, gw pikir ada satu hal lagi yang menjadi alasan (utama) mengapa gw mengeluh.
    Mengeluh adalah kebutuhan batin.
    Haha. Entah mengapa, kalo udah mengeluh itu rasanya puas gitu. Ga peduli si mau dikomentarin orang ato nggak…😛

    1. sebetulnya soal keluh mengeluh, menurut gw juga itu sesuatu yang wajar, gw sendiri juga sering mengeluh dan bahkan saling mengeluh sama temen (salah satunya sama lo xD)…

      tapi yang gw garis bawahi disini adalah kecenderungan orang untuk memanfaatkan “keluhan” sebagai ajang untuk “cari selamat” atau “membela diri”🙂

  3. kadang2 perlu mengeluh, hanya pilih2 orang yg bener2 bisa dijadiin tempat sampah.😀 soalnya cuma ada sedikit org yg emang bener2 ngerti maksud keluhan kita, dan biasanya mrk bisa bantu, atau seengganya menguatkan kembali.😀

    thanks for sharing. love the post.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s