Uncategorized

IPK, organisasi atau pengalaman kerja, mana yang lebih penting?

“percayalah IPK bukan segala-galanya.. banyak temen gw yang bisa sukses meskipun IPKnya kecil” – taken from a post @kaskus

Index Prestasi Kumulatif, sebuah tolok ukur paling gamblang untuk menggambarkan prestasi seseorang semasa Ia kuliah. Akhir – akhir ini saya mencermati adanya sebuah fenomena yang memperdebatkan mengenai peluang sukses seseorang jika dilihat dari IPK kelulusannya semasa mahasiswa. Banyak yang bilang bahwa IPK itu menggambarkan kualitas diri seseorang, sehingga nilai IPK seseorang adalah gambaran representatif akan masa depannya. Di sisi lain, tidak sedikit yang membantah dengan segudang cerita bahwa banyak orang ber IPK tinggi menganggur dan sebaliknya, orang ber IPK rendah tapi sukses dalam karirnya.

Bagi sebagian besar anak kuliahan, IPK, pengalaman organisasi dan pengalaman kerja adalah 3 hal yang secara turun – temurun digadang – gadang dari senior ke junior sebagai target utama dalam masa kuliah, karena kedua hal tersebut nantinya akan menjadi patokan masa depan yang akan didapatkan pasca lulus kuliah. Saya sendiri ketika jaman menjadi mahasiswa juga tidak tahu banyak mengenai seberapa penting ketiga hal tersebut dalam karir saya nantinya, jadi akhirnya saya hanya asal tebas saja apa yang ada di depan mata saya😛

Kembali menyorot ke ketiga “parameter kesuksesan” mata kuliah tersebut, sebetulnya seberapa penting sih ketiga hal tersebut? Menurut saya, pentingnya hal – hal tersebut dapat bergantung pada beberapa hal, salah satunya adalah target apa yang ingin kita raih pasca lulus kuliah. Nah, karena kini saya sudah dapat melihat lebih jelas, saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai apa saja sih yang bisa anda raih dengan pencapaian anda saat ini🙂

IPK Cum Laude ( di atas 3,5, gak pernah ngulang, lulus tepat waktu)

Konon, jadi lulusan Cum Laude adalah impian setiap mahasiswa. Hanya mahasiswa cerdas dan pekerja keras yang bisa mencapainya. Konon juga, masa depan bagi para cum lauders ini sangat menjanjikan. Namun, sepengetahuan saya, hanya ada sedikit cakupan masa depan yang menuntut anda untuk cum laude, antara lain:

  • mengambil beasiswa pasca sarjana dari universitas top dunia
  • melamar pekerjaan super elit, biasanya ditawarkan oleh perusahaan multi nasional dan mendapat jalur karir yang lebih cepat ( biasanya anda juga membutuhkan pengalaman organisasi yang memadai untuk hal ini )
  • melamar anak professor untuk dinikahi😛

di luar itu, setahu saya tidak ada lagi tuntutan cum laude dari dunia karir atau akademis, jadi kalau anda tidak menargetkan hal tersebut, sebaiknya tidak perlu ngotot mengejar gelar tersebut🙂

IPK Sangat Memuaskan (di atas 3)

Di bawah cum laude, standar IPK di atas 3 konon adalah batas seseorang dapat digolongkan cerdas atau tidak semasa kuliahnya dulu. Biasanya batas ini juga menjadi tolok ukur bagi sebagian besar orang tua untuk menilai anaknya sukses atau tidak. Namun, seperti halnya kasus cum laude tadi,  sebetulnnya hanya sebagian masa depan yang membutuhkan nilai sekian, antara lain:

  • melamar menjadi PNS di instansi bergengsi, misalnya Bank Indonesia, Badan Pengawas Keuangan, dll
  • melamar pekerjaan dengan percepatan jalur karir, misalnya posisi Management Trainee di perusahaan top
  • mengambil beasiswa di luar negri
  • melamar pekerjaan sesuai skill teknikal mata kuliah di perusahaan berskala nasional sebagai fresh graduate

Jadi, saya rasa kalau ada yang bilang IPK itu tidak penting, saya rasa tidak juga, karena ada pilihan – pilihan jalur masa depan yang harus dicapai dengan IPK tertentu. Namun, kembali ke permasalahan awal, jika hal – hal yang saya sebutkan di atas salah satunya adalah target anda ya berarti IPK adalah syarat mutlak yang harus anda kejar😀

Pengalaman organisasi kelas berat ( ketua BEM/Senat dkk )

Selain IPK, konon pengalaman organisasi adalah sebuah parameter yang juga sangat dilihat ketika seorang lulusan universitas melamar pekerjaan. Konon, makin tinggi jabatannya semasa organisasi, makin besar peluang dapat kerja, namun apakah begitu? Beberapa orang memang terobsesi pada dunia politik kampus hingga mengejar jabatan habis – habisan, namun jika tujuannya adalah dipajang di CV, menurut saya ada baiknya mempertimbangkan kembali, karena setau saya satu – satunya masa depan yang meminta anda untuk berorganisasi kelas berat adalah:

  • menjadi politisi muda dan menarget mencapai kursi legislatif dalam waktu singkat

Di luar itu? setahu saya sih tidak ada, jadi kalau anda menargetkan jabatan di kampus hanya untuk dipajang di CV tapi tidak berencana berpolitik sejak dini, ada baiknya anda pikir – pikir lagi deh😀

Pengalaman Organisasi Memuaskan ( sering ikut, pernah jadi kepala seksi di kepanitiaan, etc )

Nah, kalau untuk yang ini saya rasa bukan target yang sulit. Kalau dulu di kampus saya, berorganisasi itu mudah. Ada puluhan kepanitiaan di seantero kampus yang bisa diikuti, mendapatkan 1 tidak sulit donk?🙂 menurut saya kadar pengalaman organisasi ini adalah yang paling pas, namun sayangnya untuk mendapatkan “kesempatan – kesempatan” spesial seperti kategori sebelumnya biasanya juga menuntut IPK yang memadai. Biasanya kebanyakan pekerjaan yang menuntut pengalaman organisasi memadai adalah pekerjaan berbau percepatan karir seperti Management Trainee. Namun, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, anda perlu memiliki IPK yang cukup baik juga🙂

Jam Terbang Kerja Yang Tinggi

nah, kalau anda punya hal ini dan skill yang mumpuni, sebetulnya anda dapat melamar langsung untuk posisi senior, tidak harus memulai dari jalur fresh graduate, karena toh anda sudah punya pengalaman. Permasalahan utama yang dihadapi para fresh graduate adalah tanpa pengalaman kerja, pekerjaan bagus yang bisa mereka masuki terbatas sekali, kecuali memiliki nilai lebih seperti IPK tinggi atau pengalaman organisasi memadai, mereka harus memulai benar – benar dari bawah.

Namun, mengandalkan jam terbang tanpa IPK atau pengalaman organisasi juga ada kelemahannya. Yang pasti posisi – posisi yang sebelumnya saya bahas nyaris tidak mungkin anda masuki. Saya belum pernah mendengar ada beasiswa kelas dunia yang meminta pengalaman kerja sebagai salah satu syaratnya. Tapi, anda tidak perlu lagi melamar untuk jabatan “junior”, jadi anda tidak akan mengalami masa – masa menjadi fresh graduate😀

Sisanya…

Tenang brur, hidup anda tidak berhenti sampai disini kalau memang anda gagal mendapatkan satu pun dari pencapaian – pencapaian di atas. Anda memang mungkin akan mengawali karir dari posisi yang lebih di bawah dari orang dengan pencapaian – pencapaian tersebut, namun… dalam 4 – 5 tahun, anda akan berubah posisi menjadi “pekerja berpengalaman”, dan selanjutnya pengalaman, kerja keras dan skill andalah yang akan menentukan nasib anda. Mungkin benar ketika menjadi fresh graduate anda tidak lebih mudah dibanding mereka, namun dengan kerja keras, bukan tidak mungkin karir anda melesat kencang.🙂

_________

So, itu saja yang ingin saya bagi, diskusi ini awalnya bermula dari ide bung Ilman Akbar untuk membuat artikel mengenai perbedaan dunia kerja dan dunia kuliah. Semoga saja artikel ini dapat bermanfaat bagi anda dalam menyusun masa depan anda🙂

30 thoughts on “IPK, organisasi atau pengalaman kerja, mana yang lebih penting?

  1. Menurut gw,
    Pemikiran lo kebalik, bukan karena building blocksnya seperti apa lalu kita mengkompensasi dengan membangun gedung yang sesuai.
    Tapi dengan membuat blueprint – blueprint gedung kita dahulu (Mengingat orang pasti punya banyak passion), kemudian sesuaikan building blocksnya🙂. Dengan adanya blueprint, when sh*t happens, you know how to fill in the blanks.

    1. nggak kok ru, gw disini tidak menjelaskan soal arah pemikiran mana yang harus lebih dulu dipikirkan antara blueprint dan building blocks 😀
      kalaupun gw membagi tulisan gw berdasarkan “modal” yang harus diraih dan menjelaskan apa yang bisa diraih dengan modal tersebut, itu hanya untuk kepentingan penulisan semata agar lebih sistematik, karena kalau gw menggolongkan berdasarkan target baru kemudian gw jelaskan modal yang dibutuhkan akan terjadi banyak redundansi di penulisan artikel ini nantinya😀

      1. Mestinya editorial lo bisa menganjurkan kalau hidup itu mesti ada cita-citanya, bukan go with the flow🙂

        Cuma opini pribadi gw aja kok😀

      2. make sense sih sebetulnya tapi gw kemaren emang kebentur di muatan yang bakal sangat banyak dan beragam kalo nulis seperti itu…
        hmm, nanti gw bikin lagi deh tulisan berikutnya mengenai penetapan target dan usaha pencapaiannya dengan parameter yang mengacu ke post ini😀
        mau bantu saya mengenumerasi ketagori – kategori target tersebut?😀

  2. Klo yang “IPK tinggi” aja nganggur, gimana nasibnya yang “IPK setengah tinggi” ya?🙂

    Yang paling ideal menurutku ya 80% target IPK sisanya buat yang lain dah….

    Kalaupun “Jago” ini itu tapi syarat administrasi (Nilai IPK) g’ sampai. ya sama aja boong.🙂 Klo g’ jadi pengangguran ya jadi pengusaha🙂

  3. gan,,, kalo di kampus ane….
    sebagian yang ikut organisasi itu….
    udah tergolong orang yang otaknya diatas rata2… (IP >3,3)…

    dan sebagian yang kerja (magang…dll) itu sama juga… nilainya diatas rata2…
    ane setuju sama pendapat mas/mbak arudea….
    Orang-orang seperti itu harus punya blueprint…
    mereka membuat target yang sesuai dan logis bagi mereka…

  4. Artikel yg menarik dan menghibur orang2 yg berada di golongan inferior bahwa mereka pun juga masih punya kesempatan untuk meraih kesuksesan walaupun ngga bisa jadi ketua BEM/SENAT atau IPK di atas 4.0 (emang bisa yah haha).
    Yg penting kerja keras dan ketekunan masih ada di dalam kepribadian mereka, betul?

    dan juga bagi orang2 yg “berjaya di organisasi” atau “ipk cumlaude”, semoga mereka tidak menjadi sombong / narsis dengan achievement yg didapat. Walau memang memberi nilai lebih, tapi achievement itu tidak menjadi penentu berhasil/gagalnya hidup.

    Orang2 memang mesti punya blueprint, sebagai arah motivasi hidup, namun blueprint yg dipasang ngga mesti cuma 3 hal itu… Banyak kok hal2 lain yg bisa dijadikan blueprint dan beda orang beda blueprintnya harus dihargai, karena beda orang beda jati dirinya. Ga boleh dipaksakan, juga ga etis meng-superior-kan blueprint kita ke orang lain.

  5. setau gue sih IPK yang tinggi cuman bisa mengantar sampe ke tahap wawancara, nah di wawancara itu soft skill lo yg diuji. menurut gue sih😀

  6. klo mnurut gue.. tolok ukur IPK gak terllu pengaruh amat,. yg pnting nilai output yg di hsilkn semasa kuliah bs mendapat hsil yg cukup u/ masa depan, krn blum tentu IPK yg di atas 3.00 – 4.00 bs lnsung kerja bro.??
    tetap smngat frends.. [^_^]

  7. gue gak punya tiga-tiganya T__T. organisasi gak pernah ikut, UKM gak pernah ikut, IPK jelek, pengalaman kerja gak ada, soft skill pas-pasan ato malah kurang banget, relasi gak ada. madesu banget ya gue?😦.
    ada yang punya solusi gak buat orang yang gak punya ketiganya?😦

  8. nice artikel gan,,,,
    sama gue juga semster akhir , tapi galau banget dengan masa2 sekarang ini, , gara2 kesasar pada jurusan yang gak gue suka , jadinya gak ada passion dan moodnya, tpi sekarang posisi pengalaman kerja 3th dibidang komputer , terus kira2 ada saran apa ya buat saya , terima kasih sebelumnya..

  9. Menurut saya,,,semuanya sih tergantung pada diri kita sendiri,toh juga jika ipK tinggi mereka sering ditanyai yang berat” ketiaka interview nah jika tidak bisa maka yg jelek nama kampus dan nama pribadi,sehingga jadi slama ini mahasiswa rajin msuk dan ngerjain tugas aja bisa mendaatkan A….banyak sekali tman” aku sprti itu…namun sekrang anda tergantung skill anda

  10. mas, gimana kalo misalnya ada orang (temen saya ( yang banyak ikut organisasi.. 4 organisasi, belum ukmnya.. ipk nya skitar 3.. tp kalkulusnya g lolos.
    kata dia ntar enaknya ngapain? terjun ke politik?
    tp dia blg dia g suka politik.

  11. Posting yang cukup komperhensif untuk dijadikan angan-angan bagi mahasiswa semester awal. IPK menurut saya memang penting tapi tidak yang utama. Yang penting adalah keluaran setelah lulus nanti meliputi kemampuan berpikir sistematis, menganalisis sebuah masalah, dan pemecahan masalah. Dan ada lagi kemampuan berorganisasi yang berupa leadership, kemampuan presentasi ataupun bicara di depan publik. Jika orientasinya kerja dalam tujuan karir, lebih baik setidaknya ipk 3 keatas. Namun saran saya, jangan buat Indonesia lebih hancur lagi dengan bertambahnya lulusan yang tak berkompeten dan pasif. Mahasiswa setelah lulus harusnya bisa mengayomi masyatakat, mengabdikan ilmu yanh didapat, dan terakhir adalah menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, bukan malah mencarinya.

    Salam buat anak muda seluruh Indonesia

  12. wah ini artikel yang baik. di saat saya males ikut organisasi , karna artikel ini saya yakin orang ya organisasi ga sepenuhnya suram karna kurang pengalaman organisasi, begitu juga yang ipk nya kecil ga sepenuhnya suram karna ipk kecil hehe karna Rezeki sudah ada yang atur bagaimana menjemputnya saja🙂 izin copas ya kakk ku sertakan link nya juga

  13. Orang yang aktif di Organisasi itu kebanyakan orangnya pinter omong – Mungkin itu yang bikin seseorang yang aktif di organisasi santai saat berhadaopan dgn interview, itu aja pendapat gw .. tergantung tingkat psikis & mental itu aja menurut gw kalo nghadapin interview . .. Tapi inget juga ,, Kuliah itu gak boleh maen2 kan .. Klo bukan anak politik ya jgan ikut2 masalah politik ,, kadang kita juga dihadepin sama yg namanya manajemen waktu .. nah itu juga yg biasanya bikin Akademik Jeblok kalo gak bsa ngatur baek2 .. Emg mau jadi maba(Mahasiswa basi) … Intinya kita harus bsa manajemen waktu aja klo aktif di Organisasi .. tapi belajar tetep di No 1 bro .. Organisasi Boleh-boleh aja .. itu emg baek .. tpi inget , organisasi jgn terlalu di utamain .. dan inget akademik kita …. Itu aja brooooo..

  14. Terima kasih sekali artikelnya memberikan pencerahan sekali untuk saya yang maba.
    sebenernya kalau dipikir” lagi sih hidup itu bejo”an karena orang yang pinter pun akan kalah dengan orang yang bejo 👍yang penting kalau menurutku banyak” cari temen sosialisasi sama temen yang beda fakultas jangan nge geng satu kelas kemana” harus sama itu” aja hello kita udah gede.
    terus banyakin juga buat ikut” seminar workshop kali yaa biar ketemu temen” dari universitas” laen dan belajar banyak juga dari mereka terutama saya yang dari universitas swasta.
    percaya deh orang pinter akan kalah sama orang yang ada skillnya
    target memang harus selalu ditetapkan tapi kalau nggak sesuai dengan harapan mungkin itu memang sudah Takdir Allah
    hidup jangan mengejar kedudukan aja tapi akhiratnya juga jangan lupa hehe ✌👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s