Uncategorized

DRM, jagoan toko musik-nya Telkomsel yang dimusuhi dunia musik

“Digital rights management (DRM) is a generic term for access control technologies that can be used by hardware manufacturers, publishers, copyright holders and individuals to try to impose limitations on the usage of digital content and devices” – wikipedia

Minggu lalu, saya datang ke acara FreSh januari 2010 yang bertemakan digital transaction. Salah satu pembicara pada acara FreSh saat itu adalah dari langitmusik.com, produk penjualan musik online besutan telkomsel. Dalam presentasinya, langitmusik.com diklaim menggunakan sebuah teknologi canggih yang membuat musik aman dari tangan – tangan pembajak. Beberapa tahun lalu memang tampaknya saya sempat mendengar istilah ini cukup marak diperbincangkan di dunia maya tapi pembicaraan mengenai DRM kala itu setahu saya justru ke arah negatif, makanya saya agak heran kok Telkomsel malah memajukan protokol ini sebagai fitur andalan dari produk baru andalan mereka ini.

Apa sih DRM itu sebetulnya? hmm, begini… sebelum anda membaca tulisan saya lebih lanjut percayalah bahwa saya sudah berusaha semaksimal mungkin menghindari tulisan yang terlalu geeky, tapi kalau masih geeky juga, ya maaf deh😛

Okey, DRM.. DRM pada prinsipnya adalah penerapan kriptografi yang ketat pada sebuah file multimedia. Apa sih kriptografi? hmm… sederhananya sih morse adalah bentuk kriptografi paling dasar, dimana orang mengirim pesan yang disandikan dengan kode – kode khusus dan tidak dapat diartikan kecuali si penerima memiliki “kamus” atau dalam dunia kriptografi lebih dikenal dengan istilah “Key” morse yang sama dengan si pengirim pesan. Dan DRM pada dasarnya menggunakan prinsip itu, hanya saja “Key” yang digunakan disini jauh lebih rumit.

Lalu bagaimana DRM bekerja?

Vendor multimedia player membuat sebuah Key untuk DRM

Pada awalnya, sebuah vendor pemutar berkas digital (mis: Apple yang punya iPod & iTunes, Microsoft yang punya Windows Media Player, Nokia yang punya Nokia Music Player) membuat sebuah Key untuk DRM. Key tersebut akan ditanam pada semua player yang mereka miliki.

Vendor mengadakan kerja sama penjualan berkas DRM dengan layanan penyedia musik

Setelah menanam Key DRM ke semua pemutar yang mereka produksi, vendor pemutar berkas multimedia kemudian mengadakan kerja sama dengan layanan penyedia musik (mis: Apple dengan iTunes Store-nya, Microsoft dengan Napster, etc). Bagaimana bentuk kerja samanya? sederhana sekali, setelah kerja sama bisnis disepakati, vendor DRM akan memberikan Key yang sebelumnya sudah mereka buat dan ditanam ke semua player kepada layanan penyedia musik.

Layanan penyedia musik menjual file yang telah disandikan

Selanjutnya? Ketika layanan penyedia musik menjual berkas musik, musik yang mereka jual sebelumnya sudah disandikan dulu menggunakan Key yang sudah mereka dapat dari vendor DRM. Jadi ketika iTunes Store menjual musik, musik yang diunduh dari iTunes Store sebelumnya telah disandikan dengan Key yang sudah dibuat Apple dan diletakkan di semua player mereka. Nah, karena penjualan ini sangat spesifik, jadi berkas yang disandikan dengan Key DRM milik Apple tidak dapat diputar oleh player yang hanya memiliki Key DRM milik Microsoft dan lainnya, hal ini menjadikan setiap berkas hanya dapat diputar oleh pemutar yang spesifik. Hal inilah yang membuat ketika anda mengunduh berkas digital yang menggunakan DRM Microsoft hanya dapat diputar di Windows Media Player, begitu juga berkas dari iTunes Store yang menggunakan DRM hanya dapat diputar oleh produk – produk besutan Apple.

Nah, Telkomsel melalui situs langitmusik.com-nya telah menjalin kerja sama dengan DRM Microsoft dan beberapa vendor ponsel. Itulah mengapa kalau anda mengunduh dari sana, berkas yang diunduh untuk PC tidak dapat diputar di ponsel dan sebaliknya. Itulah juga mengapa berkas dari situs tersebut tidak dapat diputar di linux, iTunes, iPhone maupun Blackberry, karena tidak ada music player di linux yang mengimplementasikan DRM, dan Telkomsel juga tidak menjalin kerja sama dengan DRM Apple dan Blackberry.

Lalu kenapa saya tulis sebelumnya DRM ini dimusuhi dunia?

DRM sebetulnya bukan barang baru dalam industri musik. Microsoft sendiri telah mengimplementasikan teknologi DRM sejak tahun 1999 (10 tahun yang lalu), era mulai berkembangnya DVD juga sebetulnya DVD sudah menggunakan DRM untuk pembagian area penjualan sejak tahun 1996.

Dan seiring dengan perkembangannya, banyak sekali protes berdatangan, terutama dari kalangan vendor pemutar musik, karena sistem DRM ini dianggap sebagai bentuk dari monopoli vendor – vendor besar dan menyulitkan vendor – vendor pemutar musik baru untuk berkembang, hal ini sehubungan juga dengan isu persaingan sehat yang cukup marak akhir – akhir ini terutama di dunia digital. Selain itu, DRM juga membatasi kebebasan seorang user yang telah membeli sebuah berkas digital untuk memutarnya (bahkan untuk dirinya sendiri).

Setelah maraknya aksi penolakan terhadap DRM oleh aktivis penggiat musik, komunitas open source dan vendor – vendor pemutar musik, mulai 2007 Apple akhirnya mulai menjual musik tanpa DRM melalui iTunes Store mereka, dan pada januari 2009, iTunes Store mengklaim bahwa mereka tidak lagi menjual berkas ber DRM sama sekali, dan gerakan ini pun diikuti vendor DRM lain satu per satu, meskipun tetap ada vendor yang menyediakan layanan ini, misalnya saja Microsoft yang tetap memfasilitas penggunaan DRM untuk diputar pada WMP mereka.

so, itulah yang bisa saya bagi mengenai DRM… saya rasa ketika Telkomsel meluncurkan langitmusik yang mereka inginkan sebetulnya baik, yaitu mensupport seniman – seniman kita untuk tetap berkarya dan tidak jatuh miskin akibat pembajakan, namun… di luar sana beberapa tahun lalu DRM telah habis diprotes akankah hal yang sama terjadi disini? mari kita lihat🙂

4 thoughts on “DRM, jagoan toko musik-nya Telkomsel yang dimusuhi dunia musik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s