Uncategorized

RA Kartini, ABG Kritis di Balik Kebaya

“Peduli apa aku dengan segala tata cara itu … Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu …” – Raden Ajeng Kartini dalam suratnya kepada Stella, sahabatnya tahun 1899

Tahun 1964, Presiden Soekarno menetapkan seorang wanita ningrat asal Rembang bernama Kartini sebagai seorang pahlawan nasional, sekaligus menetapkan hari kelahirannya tanggal 21 april sebagai hari nasional dengan label sesuai namanya, yaitu “Hari Kartini”. Sejak penetapan 46 tahun lalu tersebut, kontroversi terus membalut pemberian gelar pahlawan nasional dan penetapan hari nasional tersebut. Menurut para penentangnya, masih banyak pahlawan nasional lain yang lebih berjasa daripada Kartini namun kenapa beliau yang harus mendapatkan penghargaan sebesar itu, bahkan Soekarno sang proklamator pun tidak mendapatkan jatah “Hari Soekarno” di dalam kalender kita.

Apapun itu, saat ini kita disodorkan nama seorang wanita yang sedemikian kuatnya nama tersebut hingga tercatat dalam kalender dan dilabeli sebagai “Tokoh Emansipasi Wanita Indonesia”. Saat ini bahkan namanya kerap digunakan pembelaan bahkan pembenaran oleh banyak wanita ketika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Tidak sekali dua kali kita mendengar kata – kata seperti “kalau ibu Kartini melihat apa yang terjadi pada saya, beliau pasti menangis melihat apa yang telah diperjuangkannya tidak dianggap seperti ini!”

Sekarang pertanyaannya adalah, apa betul Ia akan menangis kalau melihat ada kejadian tersebut? Atau pertanyaan yang lebih dalam adalah, siapa sih sebetulnya Kartini? Apa sih yang dulu dilakukannya?

Kartini adalah putri seorang ningrat. Saat ia lahir, pemberlakuan politik etis di Indonesia telah mendorong lahirnya sekolah – sekolah untuk kaum pribumi, sehingga Ia pun sempat mengecap pendidikan dasar sampai usia 12 tahun, setara dengan usia lulus SD jaman sekarang. Pasca sekolah, Kartini harus mengikuti adat istiadat nigrat yang memingitnya sampai Ia menikah nanti, dimana Ia tidak lagi menempuh pendidikan formal, tapi menjalani pendidikan “bagaimana menjadi istri yang baik?”

Pada usia remaja (atau ABG kalau kata anak jaman sekarang) Kartini memiliki beberapa sahabat pena dari Belanda yang diajaknya bertukar pikiran melalui surat. Menginjak usia mendekati 20-an, atau usia mahasiswa kalau jaman sekarang, Kartini kian kritis dalam berpikir. Surat – suratnya kepada sahabat – sahabat penanya di luar negri banyak menuliskan keluhan dan kritiknya terhadap berbagai hal di sekitarnya, mulai dari aturan keluarga, adat istiadat, pola pengajaran agama sampai kehidupan pergaulan di sekitarnya.

Dua hal yang paling sering dikritik oleh Kartini adalah adat ningratnya yang menurutnya menyebalkan dan menghalangi kemajuan kaum perempuan, dan juga pola pengajaran agama Islam di daerahnya yang cenderung 1 arah, dimana sang guru mengajar, dan murid dilarang mempertanyakan. Menurut Kartini, bangsa pribumi perlu lebih dari sekedar laki – laki cerdas untuk maju, menurutnya, jika perempuan pribumi secerdas laki – laki pribumi, hasilnya akan jauh lebih baik untuk kemajuan bangsa, karenanya Ia mengutuk adatnya sendiri yang justru menghalang – halangi kemajuan tersebut padahal di saat itu bangsa pribumi tengah berusaha memajukan diri lewat pendidikan untuk menaikkan derajat mereka di mata asing, sebuah hal yang konyol ketika ada cara untuk membantu perjuangan tersebut malah dikekang adat menurutnya. Kemudian di daerah Kartini, tidak ada yang bisa berbahasa arab. Sementara Al Quran terjemahan saat itu dilarang karena dianggap menodai kesuciannya. Hal ini menyebabkan guru agama pun mengajar murid untuk menghafal saja tanpa boleh mempertanyakan lebih lanjut.

Pada usia 24 tahun, Kartini menikah, dan konon menjelang pernikahannya, sikap Kartini terhadap adat istiadat mulai berubah, dari yang menolak habis – habisan hingga mulai berpikir untuk melakukan kompromi untuk mencapai ambisinya. Dengan dukungan suaminya Ia membangun sekolah Kartini untuk kaum perempuan yang kelak diikuti oleh orang – orang yang simpatik pada perjuangannya.

Pada tahun 1911, Belanda mengumpulkan surat – surat Kartini dan menerbitkannya dalam buku fenomenal “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Banyak orang menganalisa sikap dan pemikiran Kartini lewat suratnya dan bacaan – bacaannya, perubahan sikap Kartini menjelang pernikahan pun ada yang menganggap adalah kontaminasi dari adat yang akhirnya tak kuasa ditahannya.

Namun bagi saya, ini adalah sebuah cerita sederhana. Kartini adalah seorang gadis ABG yang cerdas. Dan layaknya seorang ABG cerdas pada zaman ini pun, tidak dapat dipungkiri bahwa masa itu adalah masa dimana kita mempertanyakan semuanya, kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa tidak begini saja, dan jutaan pertanyaan lainnya. Kebetulan, Kartini hidup di lingkungan yang memungkinkannya untuk bertindak. Ia memiliki koresponden – koresponden berpengaruh di Belanda, ayah yang kaya dan akses ke buku – buku pengetahuan yang banyak. Hal inilah menurut saya yang mendorong sedemikian luas dan kritisnya pemikiran Kartini dibanding wanita – wanita seusianya pada waktu itu. Kalaupun pada akhirnya kritiknya melunak, menurut saya itu bukan karena hasutan atau apa pun. Usianya menginjak pertengahan 20-an, menurut saya adalah wajar jika sikapnya yang menggebu – gebu dan penuh perlawanan itu melunak seiring dengan kedewasaannya dalam bersikap.

Bagi saya, Kartini adalah seorang gadis yang cerdas yang kebetulan memiliki fasilitas untuk melakukan sesuatu bagi apa yang Ia perjuangkan. Emansipasi hanyalah sebagian dari pemikirannya saja. Menurut saya, sikap paling penting yang ditunjukkan Kartini adalah kekritisannya, semangatnya yang tidak kenal lelah, semangat belajarnya yang tinggi dan kemauannya untuk bertindak. Dengan didukung dengen kecerdasan dan fasilitas yang Ia miliki, Ia sukses melakukan perubahan di wilayahnya lewat sekolah Kartini. Dan berkat publikasi tulisan tulisannya, Ia pun berhasil menginspirasi wanita – wanita untuk berjuang memajukan bangsa.

Jadi kalau ditanya apakah Ibu Kartini akan sedih melihat kejadian kesewenang – wenangan pada wanita dan diakhiri dengan statement seperti di atas, ini asumsi saya:

  • Ia akan sedih karena dipanggil Ibu. plis deh, di masa jayanya beliau adalah seorang ABG, bahkan sampai meninggal beliau masih masuk hitungan kaum muda (25 tahun), untuk saya melabeli kata “Ibu” pada Kartini saja sudah merusak sosoknya sebagai kaum muda penuh semangat menjadi seorang ibu – ibu yang penuh perhatian
  • Ia tidak akan sedih karena kejadian – kejadian tersebut. Kartini telah berjuang mengejar impiannya tujuannya adalah untuk memajukan bangsa, bukan memberikan kesempatan bermanja – manja dalam label emansipasi pada wanita jaman sekarang

So, pada intinya saya hanya ingin mengatakan bahwa jika ada yang perlu kita contoh dari Kartini adalah semangat juang dan belajarnya yang tinggi. Beliau mengangkat istilah emansipasi sebagai sebuah senjata yang bisa memajukan bangsanya. Bahkan kalau mau ditilik lebih jauh, dengan kaum wanita jaman di kota jaman sekarang bebas bersekolah dan berkarir, itu sudah melampaui apa yang diinginkan Kartini. Kalaupun ada yang masih perlu diperjuangkan lewat emansipasi ala Kartini, itu adalah wanita – wanita di daerah yang masih dikekang adat dan mengurangi kesempatan mereka untuk maju.

7 thoughts on “RA Kartini, ABG Kritis di Balik Kebaya

  1. Baru baca gw tem… mantep tulisannya… sudut pandang yang fresh dan nggak ‘fake’ (nggak kayak kebanyakan ucapan selamat orang-orang jaman sekarang)😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s