Uncategorized

Saat Malaikat Bicara Pendidikan

Educatiel adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk mengawasi perkembangan kecerdasan manusia, khalifah sekaligus makhluk kesayangannya di bumi. Sekitar medio tahun 2010, Educatiel banyak sekali menerima laporan doa dan keluhan seputar pendidikan yang datang dari bumi Indonesia. Penasaran dengan apa yang terjadi di Indonesia, Educatiel mengundang seluruh malaikat penjaga dari anak – anak Indonesia untuk rapat dan mencari tahu sebetulnya sedang ada apa dengan pendidikan di Indonesia.

Setelah malaikat – malaikat penjaga itu berkumpul Educatiel memulai rapat dan membukanya dengan menceritakan apa yang didengarnya dari bumi Indonesia.

Saudara – saudaraku malaikat yang terhormat, banyak manusia di bumi Indonesia yang mengatakan ada kegagalan pendidikan di bumi Indonesia sana. Konon salah satunya terlihat karena adanya semacam ujian di sana yang banyak pesertanya yang tidak lulus. Berikut saya akan membacakan dugaan – dugaan saya mengenai kasus Indonesia ini dan mohon untuk ditanggapi.

lalu Educatiel pun mulai membacakan dugaan penyebab banyak manusia di bumi Indonesia yang mengeluhkan pendidikan:

Pertama – tama, saya ingin sampaikan bahwa banyak manusia yang mengeluhkan pemerataan kesempatan pendidikan, apakah benar itu terjadi dan menjadi sebab krusial di Indonesia?

“Maaf paduka, perkenalkan saya adalah malaikat penjaga dari seorang gadis berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah desa. Di desa tempat saya bertugas, fasilitas pendidikan minimalis sekali. Sekolah luasnya tidak lebih dari beberapa jengkal saja. Ruang kelas yang tersedia terbatas jadi harus dipakai bergantian. Kondisinya pun sangat jauh dari layak paduka.

Namun, menurut saya hal itu bukan masalah utama, meskipun minim setiap anak bisa mengenyam ilmu yang cukup sebetulnya.  Sayangnya, anak – anak ini justru kurang mendapat kesempatan dari orang tua mereka sendiri paduka. Siang hari sepulang sekolah mereka diminta membantu orang tua mereka bekerja di kebun. Di malam hari mereka terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Dan di luar itu semua paduka, tidak semua orang tua menginginkan anaknya sekolah. Banyak di antara mereka yang lebih suka anaknya meladang, membantu mengurus rumah saat bapaknya bekerja atau malah menikahkan mereka sejak dini.”

Hmm, begitu ya. Kalau begitu mungkinkah karena fasilitas di tempatmu minim, sehingga orang tua juga merasa ragu menyekolahkan anaknya? Mungkinkan bukan saja pemerataan kesempatan tapi juga pemerataan fasilitas pendidikan anak juga perlu diperhatikan?

“Interupsi pak ketua. Sebelumnya mohon maaf, saya menjaga seorang anak lelaki di ibukota berusia 16 tahun. Orang tuanya sangat mampu. Anak yang saya jaga setiap hari kini ke sekolah dengan mobil mewah, membawa smartphone terbaru dan kartu kredit gold di dompetnya. Ia bersekolah di sekolah dengan fasilitas super mewah, namun apa lacur, tetap saja nilainya buruk dan orang tuanya mengeluhkan itu terus menerus.

Dan anak itu bukan satu – satunya paduka. Di sekolah tersebut juga banyak siswa yang standar keilmuannya rendah sehingga para guru pun mau tidak mau mengatrol nilai siswa – siswinya agar tidak kena labrak kepala sekolah yang begitu membanggakan sekolahnya itu.”

Begitukah? wah, yang miskin gagal. yang kaya juga gagal, apa jangan – jangan negri itu anak – anaknya bodoh semua ya?

Saat itulah, seorang malaikat lain berdiri mengangkat tangannya. Berbeda dengan 2 malaikat sebelumnya yang melapor dengan tatapan lesu selesu kebanyakan orang di bumi Indonesia ketika membicarakan pendidikan, malaikat ini mengangkat kepalanya tegak setengah angkuh, tersenyum dan berbicara dengan penuh semangat:

Anak yang saya jaga bukanlah orang berada. Keluarganya miskin. Sekolah pun meskipun di daerah ibukota hanya di sebuah sekolah pinggiran yang mungkin tidak jauh lebih baik dari gadis di cerita malaikat pertama. Ayahnya bukanlah orang yang pintar atau hebat. Masa mudanya Ia hanyalah buruh cetak di perusahaan koran dan kini Ia menjadi pengamen setelah dipecat akibat perusahaannya merugi saat krisis.

Walau begitu yang mulia, kebetulan saat muda Ia suka sekali membaca koran sisa hasil cetakannya. Ia membawanya pulang ke rumah dan membacanya bersama istrinya. Rubrik kesukaannya adalah rubrik berbau profil para tokoh. Ia selalu senang membaca kisah sukses para tokoh itu sambil berharap suatu hari Ia bisa sukses seperti mereka. Tapi apa daya, semakin Ia membaca semakin minder Ia terhadap hidupnya. Banyak sekali tokoh sukses yang Ia baca di koran, tapi sedikit sekali yang sukses tiba – tiba, kebanyakan dari mereka telah membekali dirinya dengan berbagai persiapan sejak muda, sesuatu yang Ia gagal lakukan.

Ketika Ia punya anak, di pikirannya hanya 1 kalimat: “anakku harus sukses, Ia tidak boleh memiliki hidup semenderita aku!”. Dan sejak itu Ia mencurahkan tenaganya untuk bekerja ekstra demi menyekolahkan anak – anaknya. Kemudian Ia juga menabung demi mengikuti program keluarga berencana, karena Ia berpikir bahwa menyekolahkan 1 anak itu berat, maka Ia tidak ingin punya anak terlalu banyak seperti saudara – saudaranya di kampung yang berpikir banyak anak banyak rejeki.

Ia tidak membacakan buku dongeng pada anaknya. Yang Ia bacakan adalah rubrik tokoh di koran kesayangannya. Satu hal yang Ia tanamkan pada anak – anaknya adalah “nak, kamu bisa punya kehidupan yang lebih baik dari bapak, tapi kamu harus mempersiapkan segalanya, terutama pendidikan kamu”

IQ anak – anaknya sebetulnya juga tidak jauh beda dengan si bapak. Mereka tidak begitu cerdas, tidak bisa menghitung perkalian 2 digit kali 2 digit di luar kepala dengan cepat. Namun inspirasi dari sang ayah dan dorongan dari sang ibu membuat mereka bertekad untuk belajar keras.

Dan sejauh yang saya lihat, perjuangan orang tua itu terbayar. Anak – anaknya bisa mendapat ilmu yang cukup meski memulai dari sekolah pinggiran. Ada 2 anak yang kujaga di keluarga itu. Si kakak sampai saat ini bisa mempertahankan prestasinya di 10 besar smp-nya, sementara si adik memang sedikit lebih pintar kerap menjadi juara kelas.

Lalu, apa kesimpulanmu dari cerita ini wahai malaikat penjaga anak – anak yang beruntung tersebut?

Jadi kalau boleh saya berpendapat paduka, sekolah memang hanya bisa memberikan ilmu. Banyak orang di bumi Indonesia yang tidak menyukai ini dan berpendapat harus ada pembimbingan moral di sekolah, namun menurut saya ini tidak tepat. Perlu diingat di bumi Indonesia, mencari guru yang bisa mengajar keilmuan dengan baik saja susah, apalagi yang bisa mengajar keilmuan dan moral?

Masih ada satu pihak yang sebetulnya punya peranan penting pada pendidikan anaknya. Masalahnya, orang tua dari anak – anak generasi sekarang juga menjalani usia sekolah 20-30 tahun yang lalu, dan saat itu pendidikan juga belum sukses. Saya tidak melihat pendidikan di bumi Indonesia ini gagal sekarang, yang saya lihat ya dari dulu memang belum sukses. Mendidik anak itu mudah, namun kalau orang tua dari anak tersebut tidak punya visi yang sama dalam mendidiknya, bisa menjadi sulit. Banyak orang tua tidak tahu seperti apa dunia karir saat ini, contoh mudah beberapa minggu lalu di bumi Indonesia gempar karena berita seorang anak sangat cerdas dipekerjakan menjadi tukang sapu karena orang tuanya mendesak si anak bekerja di tempat tersebut. Lalu kisah anak cerdas yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena orang tuanya mengarahkan ke pernikahan dini, bekerja membantunya  atau malah karena saudaranya terlalu banyak sehingga dananya kurang juga kerap terjadi.

Paduka Educatiel, sejauh ini saya melihat, anak – anak di bumi Indonesia tidak termotivasi untuk belajar karena memang tidak diberikan gambaran yang baik mengenai masa depan yang bisa didapat oleh orang tua mereka. Maka dari itu, saya rasa apa yang bisa dilakukan bukanlah dengan memperbaiki sekolah atau mengganti model ujian, tapi memastikan anak – anak itu mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dari orang tua mereka masing – masing, yaitu motivasi untuk menjalani pendidikan dan menjelaskan kepada orang tua mereka apa pentingnya pendidikan bagi anak – anak mereka, karena tanpa itu, mau semewah apapun kita bangun gedung sekolah di pedesaan tetap tidak akan ada gunanya.

Terima kasih atas waktunya dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam kata – kata saya.

Seketika itu seluruh hadirin sidang malaikat terdiam mendengar penuturan tersebut. Mereka mulai membayangkan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah masalah yang sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu. Masalahnya bukan pada dana, fasilitas, sistem atau kurikulum, tapi modernisasi visi masyarakat akan pendidikan dan juga penekanan akan pentingnya pendidikan itu sendiri, sesuatu yang terdengar sepele tapi rasanya berat sekali dilakukan.

3 thoughts on “Saat Malaikat Bicara Pendidikan

  1. Iya. Kegagalan pendidikan di Indonesia bukan salah guru/ sekolah/ mentri/ kurikulum/ fasilitas/dll. Tapi sebetulnya kesalahan nya ada pada orangtua mereka. Orang tua lah yang harus bertanggung jawab penuh pendidikan anak2nya.

    Kalau anaknya dodol/ bodoh / lemah dalam belajar, yah orangtuanya wajib mendampingi, menemani sang anak untuk belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s