Uncategorized

Jangan Pergi ke Gaza Kalau Bukan Untuk Mereka

Belum kering air mata para keluarga yang harus kehilangan saudaranya dari peristiwa naas tersebut, sebuah isu telah terlintas di kalangan aktivis dan simpatisan Gaza tanah air, yaitu proyek Freedom Flotilla Jilid II. Aku bukannya tidak suka dengan ide ini, tapi cobalah tengok kembali peristiwa kemarin, kalau ada satu saja pelajaran yang bisa dipetik, itu adalah “Israel serius memblokade Gaza dan mereka tidak akan main – main mempertahankannya”.

Tidak kah anda semua bisa melihatnya? Lantas apa gunanya melakukan gerakan yang sama dengan yang kemarin? Hasilnya sudah dapat diketahui, Israel akan menyerang lagi dan tragedi yang sama akan terulang.

Cobalah kau merenung sejenak kawan, kalau kau tidak sayang nyawamu, itu urusanmu. Kalau kau berpikir untuk pergi hanya untuk cari perhatian untuk Tuhanmu, itu urusanmu. Kalau kau pergi dengan segudang harapan akan keajaiban tiba – tiba tentara Israel tergerak hatinya untuk membiarkanmu lewat, atau mungkin mereka dihempas badai ajaib dari langit, itu urusanmu.

Tapi kesuksesan dari misimu, itu juga urusan saudara – saudaraku sesama manusia sipil di Gaza yang terhimpit krisis sosial karena pertikaian para penguasa. Jangan bawa – bawa nama mereka dalam misimu kalau menolong mereka bukan tujuanmu. Jangan bawa – bawa mereka dalam nama misimu kalau kepergianmu hanya untuk misi egomu sendiri. Kalau kau mau membawa nama mereka, pikirkan dengan cermat aksimu. Aksi serupa sudah gagal, sebegitu bebalkah dirimu untuk melakukan hal yang sama tapi berharap itu berhasil? Atau kau memang tidak berharap itu berhasil, yang penting kau sudah pergi, toh gagal pun kau mati sebagai pahlawan.

Kalau kau mau pergi untuk dirimu, untuk lsm-mu, untuk partaimu, atau bahkan agamamu, jangan gunakan nama mereka. Sudah cukup mereka dihimpit kesulitan, jangan lagi kau gunakan nama mereka untuk publikasimu. Seperti yang kukatakan pada judul tulisan ini kawan, jangan pergi ke Gaza kalau bukan untuk mereka. Dan kalau kau memang pergi untuk mereka, maka pikirkanlah mereka. Pikirkanlah caranya untuk menolong mereka, jangan pergi kalau kau sendiri tidak bermaksud menolong mereka dan tidak yakin kau bisa melakukannya.

27 thoughts on “Jangan Pergi ke Gaza Kalau Bukan Untuk Mereka

  1. Israel emang serius, tapi emang dah seperti itu sejak pertama kali invasi ke Palestina.

    Tapi benarkah ada alasan lain untuk pergi ke Palestina selain untuk membantu mereka?
    untuk diri sendiri?
    untuk LSM?
    untuk partai?
    semua itu tidaklah cukup kuat untuk menghadapi kekuatan militer yang sedang melakukan invasi dan tidak mau campur tangan orang lain.

    Peristiwa Flotilla merupakan pukulan telak bagi masyarakat dunia yang sudah terlena dibalik kebijakan2 HAM dan segala jenis kekebalan2 terhadap aksi kemanusiaan dalam peperangan, dan memang efektif, blogpost ini salah satu bukti efektivitasnya.
    Padahal semua “kenyamanan” itu tidak diakui oleh pihak Israel, kecuali yang akan menguntungkan mereka atas Palestina.

    Tapi dengan fakta seperti itu, knapa orang justru terfokus pada anggapan mengulang tindakan yang sama adalah kebodohan, tapi seakan terlupa bahwa apa yang dilakukan Israel adalah perlawanan terhadap dunia internasional?

    Bahkan Amerika yang biasanya berteriak lantang, menjadi ragu dalam bersuara.

    Jadi apa yang harus dilakukan untuk menolong Palestina, sementara Israel menertawakan lemahnya dunia internasional yang hanya bisa sebatas menyelidiki padahal sudah banyak bukti kekejian mereka dalam invasinya?

    1. maaf mas ganteng, ada beberapa point di pernyataan anda yang saya gak nangkep, misalnya:

      Tapi benarkah ada alasan lain untuk pergi ke Palestina selain untuk membantu mereka?…semua itu tidaklah cukup kuat untuk menghadapi kekuatan militer yang sedang melakukan invasi dan tidak mau campur tangan orang lain.

      apakah anda mengatakan bahwa jika motivasinya untuk, para relawan akan kuat menghadapi kekuatan militer? di mana relevansinya ya?

      Peristiwa Flotilla merupakan pukulan telak bagi masyarakat dunia yang sudah terlena dibalik kebijakan2 HAM dan segala jenis kekebalan2 terhadap aksi kemanusiaan dalam peperangan, dan memang efektif, blogpost ini salah satu bukti efektivitasnya.

      hmm, di sebelah mananya tulisan saya yang menjelaskan bahwa saya mengatakan kita bisa terlena di balik kebijakan ham dan kekebalan aksi kemanusiaan ya?

      Tapi dengan fakta seperti itu, knapa orang justru terfokus pada anggapan mengulang tindakan yang sama adalah kebodohan, tapi seakan terlupa bahwa apa yang dilakukan Israel adalah perlawanan terhadap dunia internasional?

      setuju bahwa Israel memang melawan dunia internasional, tapi apakah kondisi bahwa Israel melawan dunia dan mengulangi sebuah usaha yang sama itu adalah bodoh mutually exclusive? saya rasa tidak…

      Jadi apa yang harus dilakukan untuk menolong Palestina, sementara Israel menertawakan lemahnya dunia internasional yang hanya bisa sebatas menyelidiki padahal sudah banyak bukti kekejian mereka dalam invasinya?

      satu hal yang saya tahu pasti, jika anda datang membawa ransum dalam kapal lagi seperti kemarin, pasukan Israel akan kembali mencegat anda, mengusir anda dan jika anda melawan, mereka tidak akan segan – segan mencabut senjatanya… menurut anda apa yang bisa diubah dari rencana pengiriman tersebut supaya kemungkinan misi berhasil bisa lebih tinggi?🙂

      1. “apakah anda mengatakan bahwa jika motivasinya untuk, para relawan akan kuat menghadapi kekuatan militer? di mana relevansinya ya?”
        motivasinya “untuk”? maksudnya?
        Yang saya maksudkan, siapapun yang mengetahui kekejian seperti apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, pasti ingin pergi dan membantu tanpa peduli yang dihadapi adalah kekuatan militer.

        Peperangan yang terjadi di Palestina bukanlah militer vs militer, tapi militer Israel vs masyarakat Palestina secara keseluruhan. Israel tidak memperdulikan yang dihadapinya adalah anak kecil atau dewasa, wanita atau lelaki, bersenjata api atau tidak, mereka akan menghancurkan semua yang melawan ataupun memiliki potensi untuk melakukan perlawanan di masa depan.

        masih ingat berita bocornya rencana penghancuran sebuah desa di Palestina yang dibatalkan karena salah satu prajurit Israel secara tidak sengaja menuliskannya di facebook?

        target Israel adalah penguasaan Palestina secara keseluruhan, apapun caranya, alasan “membela diri” adalah trik lama yg sudah sering digunakan Israel untuk membenarkan semua aksi bombardirnya terhadap Palestina. Ironis, karena posisi mereka adalah penjajah yang sedang expansi wilayah kekuasaannya ke Palestina.

        “hmm, di sebelah mananya tulisan saya yg menjelaskan bahwa saya mengatakan kita bisa terlena di balik kebijakan ham dan kekebalan aksi kemanusiaan ya?”
        erm… agak ga nyambung sih, yg saya maksud itu, serangan Israel cukup efektif untuk gertak masyarakat internasional (yg umumnya mematuhi konvensi internasional tentang HAM dan aksi kemanusiaan dalam peperangan) hingga muncul sikap2 seperti yg dicontohkan blogpost ini😛

        Kalau kita hanya berfikir sebatas “aksi pengiriman bantuan untuk Palestina”, memang mencoba mengulang hal yg sebelumnya sudah gagal adalah kebodohan. Tapi yg dihadapi adalah kekuatan militer, yg sedang melakukan expansi dan merasa “mendapat dukungan” dengan diamnya masyarakat internasional.
        Untuk melemahkan kekuatan itu, “dukungan” tersebut harus dihilangkan, dan satu2nya cara menghilangkannya adalah dengan membuka mata dunia terhadap kekejian tindakan Israel itu sendiri.
        Jadi walaupun kegagalan demi kegagalan akan dialami, apapun harus dilakukan untuk membuka mata dunia hingga tekanan terhadap Israel secara internasional dapat dilakukan dan Israel keluar dari Palestina.

        Dan kalau semua itu terdengar seperti ikut campur urusan negara lain, berhentilah berfikir konflik di Palestina hanya urusan antar 2 negara yang berseteru saja.

      2. Yang saya maksudkan, siapapun yang mengetahui kekejian seperti apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, pasti ingin pergi dan membantu tanpa peduli yang dihadapi adalah kekuatan militer.

        nggak juga ah mas… banyak kok yang udah tau aksi agresi israel ke palestina, tapi gak semuanya peduli… yang peduli pun gak semuanya mau buang nyawa ikut aksi kemanusiaan yang tidak dipersiapkan untuk menghadapi kekuatan militer…

        Peperangan yang terjadi di Palestina bukanlah militer vs militer, tapi militer Israel vs masyarakat Palestina secara keseluruhan. Israel tidak memperdulikan yang dihadapinya adalah anak kecil atau dewasa, wanita atau lelaki, bersenjata api atau tidak, mereka akan menghancurkan semua yang melawan ataupun memiliki potensi untuk melakukan perlawanan di masa depan.

        saya setuju bahwa Israel memang cukup bermasalah dengan HAM, mereka terlibat penyerangan ke masyarakat sipil… namun bukan berarti yang diserang hanya masyarakat, Hamas sendiri di jalur Gaza sudah lama bergerilya dengan rudal dan senapan mesin… kemudian untuk dicatat, perhatikan bahwa yang sedang dijajah adalah Gaza, perluasan topik menjadi “Palestina” menurut saya berlebihan, Israel dan Fatah telah lama menjalin kesepakatan perdamaian di West Bank dan setau saya sampai sekarang di daerah itu tidak ada agresi seperti di Gaza…

        Untuk melemahkan kekuatan itu, “dukungan” tersebut harus dihilangkan, dan satu2nya cara menghilangkannya adalah dengan membuka mata dunia terhadap kekejian tindakan Israel itu sendiri.

        hmm, mencari dukungan dengan mengorbankan nyawa demi nyawa yang terus melayang dari setiap kurang taktis yang gagal? whew, good luck with that :mrgeen:

        Dan kalau semua itu terdengar seperti ikut campur urusan negara lain, berhentilah berfikir konflik di Palestina hanya urusan antar 2 negara yang berseteru saja.

        well, Palestina dan Israel itu memang masalah perseteruan politik diseratai militer antara Israel, Fatah, Hamas dan Mesir, jadi memang bukan 2 negara mas, tapi 2 negara dan 2 partai, masalah pelanggaran HAM dll itu suatu hal yang lumrah terjadi di perang, apalagi isunya adalah penjajahan dan separatisme, hal yang sama terjadi di Timor Timur ketika tentara Indonesia bertindak semena – mena ketika mereka berusaha mencapai kemerdekaan… lalu mengapa masalah ini harus menjadi masalah dunia?

  2. banyak yg tau? tepatnya berapa banyak yg tau kalau target Israel adalah pemusnahan semua masyarakat Palestina, tidak peduli dewasa, anak-anak, lelaki, wanita, bersenjata ataupun tidak, semua yg tidak mau tunduk pada kekuasaan Israel?

    saya sih yakinnya lebih banyak yang tau kalau konflik Palestina cuma sebatas pertikaian antara Israel dan Hamas, dan karenanya tidak peduli.

    benar, Hamas memang bergerilya di jalur Gaza memerangi Israel, tapi, berapa banyak yang memahami kenapa Hamas masih terus ada dan memberikan perlawanan dari dulu hingga sekarang?

    saya pun menyayangkan tindakan sembrono Hamas yang menyerang daerah sipil Israel, tapi lebih karena hal itu dengan mudah dapat dijadikan alasan untuk menghancurkan Palestina, seperti yang sudah terjadi.
    serangan2 lokal dari bom bunuh diri dan rudal tangan, dibalas dengan artileri udara yang membabi buta menghancurkan kota? dimana pembenarannya?

    sebelumnya sudah saya tuliskan, Israel ingin menguasai tanah Palestina secara keseluruhan, selama ini kita hanya mendengar tentang jalur Gaza karena memang banyak pejuang Palestina yang masih mempertahankannya.
    sejak aksi invasi Israel dimulai tahun 1948, sudah banyak tanah Palestina yang jatuh ke tangan Israel secara paksa.
    bukan hanya jalur Gaza yang dijajah, tapi lokasi itulah yang sedang dipertahankan.

    perseteruan politik? bagi mereka yang hanya memahami konflik Palestina dari berita media massa, mungkin seperti itu.
    tapi tidak ada hal politis dari aksi Israel kecuali saat bermulut manis di hadapan dunia internasional dengan menyatakan bahwa merekalah yang menjadi korban. korban dari aksi penjajahan yang mereka lakukan terhadap Palestina?
    yang terjadi di Palestina bukan peperangan, tapi pemusnahan massal terhadap masyarakat Palestina yang tidak mau tunduk.

    penyerangan kapal kemanusiaan, sedikit banyak merupakan keteledoran yang justru menampakkan sifat asli dari Israel, yang dengan congkak menantang dunia internasional yang berani campur tangan urusannya.
    Israel tidak peduli dengan semua perundingan2 ataupun konsensus internasional, kecuali yang bisa menguntungkan mereka.
    sifat licik dan ambisius seperti itu, untuk beberapa orang, sudah cukup untuk menjadikan mereka ancaman bagi masyarakat internasional di masa depan, baik secara politis maupun agama.

    knapa membawa agama? sudah bukan rahasia lagi konflik Palestina sering disebut sebagai peperangan antara Yahudi dan Islam, tidak aneh, pihak yang mengalami kehancuran adalah muslim Palestina, begitupun yang melakukan perlawanan, dan Israel tidak segan2 untuk menghancurkan situs-situs bersejarah Islam di Palestina.
    tapi situs bersejarah Islam bukan satu2nya yang terancam di sana.

    1. saya sih yakinnya lebih banyak yang tau kalau konflik Palestina cuma sebatas pertikaian antara Israel dan Hamas, dan karenanya tidak peduli….

      pernyataan bahwa kalau orang tahunya konflik palestina adalah perseturan Israel – Hamas membuat orang tidak peduli tidak berimplikasi bahwa jika orang tahu konflik Palestina lebih dari itu maka orang akan peduli mas🙂

      perseteruan politik? bagi mereka yang hanya memahami konflik Palestina dari berita media massa, mungkin seperti itu…. yang terjadi di Palestina bukan peperangan, tapi pemusnahan massal terhadap masyarakat Palestina yang tidak mau tunduk.

      yah, dan anda tahu mengenai motivasi di balik aksi politik Israel itu bukan dari media?

      knapa membawa agama? sudah bukan rahasia lagi konflik Palestina sering disebut sebagai peperangan antara Yahudi dan Islam, tidak aneh, pihak yang mengalami kehancuran adalah muslim Palestina, begitupun yang melakukan perlawanan, dan Israel tidak segan2 untuk menghancurkan situs-situs bersejarah Islam di Palestina.

      karena disebut peperangan Yahudi dan Islam, lantas apakah itu menunjukkan bahwa Yahudi di seluruh dunia sedang memerangi umat Islam di seluruh dunia? Ketika pertumpahan darah karena isu agama antara Islam dan Kristen di Ambon apakah itu berarti seluruh umat Kristen di Indonesia sedang memenuhi umat Islam? saya rasa tidak begitu🙂
      Lahirnya Israel memang didasari motivasi agama, ketika PBB mempropose membagi wilayah palestina menjadi 2 adalah karena wilayah itu sebelumnya tak bertuan dan tak berdaulat, ketika umat Islam di Palestina belum tahu apa yang mau dilakukan di wilayahnya antara membuat sebuah negara, membuat beberapa negara kecil atau bergabung dengan negara arab lainnya, sementara penduduk beragama Yahudi berinisiatif mendirikan sebuah negara berdaulat bernafaskan Yahudi bernama Israel…

      Jadi kalau dibilang orang Yahudi di tanah Palestina sedang berada di pihak yang berlawanan dengan penduduk Islam ya saya rasa benar, karena keinginan para penduduk Yahudi itu tidak serta merta direstui oleh para penduduk Islam, meskipun pada akhirnya justru mereka duluan yang berhasil mendirikan negara berdaulat yaitu Israel… tapi apakah ini berarti di seluruh dunia ini orang Yahudi sedang memusuhi orang Islam? wah, itu generalisasi yang jauh sekali bung🙂

      Pada intinya, ada beberapa point yang ingin saya sampaikan lewat tulisan dan komentar2 ini:

      1. menilailah dengan bijak. saat ini memang terjadi perbedaan pemberitaan antar media… sebagian media bernafaskan Islam menuding Israel (bahkan Yahudi), sementara media lainnya membela Israel… anda bicara Israel play victim di media – media barat, saya juga bisa katakan kalau orang barat baca majalah Islam terbitan Indonesia mereka akan bilang orang Islam sedang play victim… media besutan orang Yahudi seperti Twitter sempat bermasalah dengan berita yang menguntungkan Islam, sebaliknya media besutan orang Islam juga selalu memojokkan Israel dan Yahudi secara keseluruhan… dan buat saya, tidak arif rasanya kalau kita menilai kedua pihak yang sebetulnya sama2 tidak fair itu menjadi satu pasti benar dan satu pasti konspirasi🙂

      2. saya tidak mengatakan Israel benar atau salah, untuk kasus Flotilla sih mereka pasti salah, aksi yang berlebihan menggunakan senjata api seperti itu… tapi… kalau ada pihak yang mau mencaci juga tempatkan pada porsinya… mengatai Yahudi itu Laknatullah atau Israel adalah bangsa terkutuk hanya karena 1 kejadian sama tidak bijaknya dengan mengecap Islam adalah agama teroris hanya karena Osama Bin Laden melakukan pengeboman… terlalu jauh generalisasi yang terjadi🙂

      3. saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh membantu Gaza lewat aksi2 kemanusiaan… yang saya katakan, pikirkan baik – baik, jangan sembarangan ingin pergi… anda tahu apa resikonya jadi ya lakukan persiapan donk… kalo mau garis keras sekalian bawa alat tempur… atau kalau tidak ya gerilya, menyusup secara tersembunyi… datang dalam iring – iringan kapal besar ya anda sudah bisa menebak apa hasil akhirnya…

      1. memang relatif, orang yg menilai konflik Palestina hanya peperangan biasa dan sudah merasa nyaman dalam “comfort zone”nya memang tidak akan peduli apapun yg terjadi disana selama kenyamanannya tidak terganggu, berbeda kalau dia mengetahui dampak lebih jauh dari invasi yg dilakukan Israel di Palestina.
        saya pribadi, sabar menantikan dimulainya peperangan terbuka melawan Yahudi khususnya Israel seperti yg sudah dijanjikan.

        knapa membandingkan dengan tragedi Ambon? yg terjadi di Ambon adalah perang saudara yg dipicu dan dimanfaatkan oleh pihak ketiga, tentu kasus maupun kondisinya jauh berbeda dengan Palestina.
        dan ketika tragedinya terjadi pun hampir semua muslim di Indonesia merasakan amarah dan urgensi untuk pergi ke sana.

        saat Israel membatasi semua kegiatan ibadah muslim bahkan menyerang situs bersejarah Islam, rasanya wajar bila semua muslim di dunia menyatakan perang terhadap Israel, sama halnya bila Israel menyerang Jerusalem/Nazareth.

        mengenai pertanyaan anda tentang permusuhan Yahudi terhadap Islam, rasanya memang masih ada yg belum memahami permusuhan/peperangan antar agama, khususnya antara Yahudi dan Islam. Walaupun bentuknya berbeda, tapi peperangan itu sudah sejak lama terjadi, perebutan tanah Palestina oleh Israel hanya satu contoh yang muncul ke permukaan.
        berdasarkan sejarah, tanah yang sekarang menjadi Palestina dulunya merupakan hak bangsa Yahudi, tapi kesombongan membuat mereka kehilangan hak tersebut dan mereka terasing, tanah Palestina pun dikuasai oleh muslim.
        inilah motivasi dasar invasi Israel ke Palestina, yang dengan kelicikannya memanfaatkan PBB dalam mengklaim tanah Palestina.

        berita ini mungkin bisa menjelaskan pentingnya aksi2 seperti flotilla terus dilakukan

        http://www.antaranews.com/berita/1275640373/freedom-flotilla-dan-perang-opini

      2. memang relatif, orang yg menilai konflik Palestina hanya peperangan biasa dan sudah merasa nyaman dalam “comfort zone”nya memang tidak akan peduli apapun yg terjadi disana selama kenyamanannya tidak terganggu, berbeda kalau dia mengetahui dampak lebih jauh dari invasi yg dilakukan Israel di Palestina.

        mohon cermati kembali tanggapan saya soal bagian ini, kalau perlu saya kutip, saya kutip deh komentar saya sendiri:

        pernyataan bahwa kalau orang tahunya konflik palestina adalah perseturan Israel – Hamas membuat orang tidak peduli tidak berimplikasi bahwa jika orang tahu konflik Palestina lebih dari itu maka orang akan peduli mas

        saya sama sekali tidak membahas mengenai kedalaman pengetahuan atau apapun, yang saya bahas adalah kesalahan logika berpikir yang anda gunakan, coba baca – baca disini:
        http://en.wikipedia.org/wiki/Logical_implication
        kalau sudah baca dan masih belum clear mengenai dimana letak relativitas yang saya permasalahkan, silahkan katakan saja, saya akan jelaskan…

        saya pribadi, sabar menantikan dimulainya peperangan terbuka melawan Yahudi khususnya Israel seperti yg sudah dijanjikan.

        serius? inikah alasannya sebagian besar umat Islam (dan Yahudi?) begitu excited dengan perang ini? karena memang ada keinginan untuk berperang?
        hmm….
        kalau memang begitu, rasa – rasanya saya tidak perlu berkomentar apapun lagi… dengan pernyataan barusan saya sudah menangkap esensi dari semua masalah ini, kenapa umat Islam begitu reaktif terhadap kejadian ini, rasa – rasanya semua menjadi clear… perang ini memang diinginkan… anda memang menginginkan adanya perang, sehingga begitu ada kesempatan menuju perang terbuka itu berarti penggenapan ramalan kuno?

        knapa membandingkan dengan tragedi Ambon?… dan ketika tragedinya terjadi pun hampir semua muslim di Indonesia merasakan amarah dan urgensi untuk pergi ke sana… saat Israel membatasi semua kegiatan ibadah muslim bahkan menyerang situs bersejarah Islam….

        cek kembali komentar saya, di sisi mana saya membandingkan Palestina dan Ambon, dan silahkan menilai pada kaidah perbandingan tersebut, ketika anda bicara pihak ketiga menurut saya ranah pembicaraannya terlalu jauh berbeda…

        pembatasan kebebasan beribadah dan solidaritas berangkat ke Ambon? lucu sekali saya mendengar pernyataan itu, anda bukan orang pertama yang mengatakan masalah pengekangan beragama ini kepada saya, lucunya orang – orang lain yang mengatakan hal tersebut kepada saya kebanyakan juga tersenyum ketika mendengar gereja di dekat rumahnya ditutup atau pemda rumahnya melarang pembangunan gereja… sebegitu mudahkah standar ganda diterapkan? kalau umat Islam tidak boleh beribadah, itu berarti perang, kalau umat lain tidak boleh beribadah, mereka harus diam… kalau media barat menyebarkan berita itu adalah fitnah dan konspirasi, sementara kalau majalah Islam tanah air menyebarkan berita, itu adalah kebenaran?

        mengenai pertanyaan anda tentang permusuhan Yahudi terhadap Islam, rasanya memang masih ada yg belum memahami permusuhan/peperangan antar agama, khususnya antara Yahudi dan Islam. Walaupun bentuknya berbeda, tapi peperangan itu sudah sejak lama terjadi, perebutan tanah Palestina oleh Israel hanya satu contoh yang muncul ke permukaan.

        well, semua kembali ke dendam kesumat kedua belah pihak sejak jaman hijrah kah? pertanyaan saya, pernahkah anda berpikir untuk mencari solusi perdamaian alih – alih mengidamkan perang dalam ramalan yang digadang – gadang itu?

        kemudian mengenai artikel tersebut, tidakkah inti yang ingin anda sampaikan hanya di bagian ini:

        Sementara Freedom Flotilla dan misi-misi tanpa kekerasan lainnya akan terus ke Gaza dan jika Israel terpancing mengkerasinya maka Israel bakal “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.”

        tidakkah sudah saya bahas pada komentar sebelumnya:

        hmm, mencari dukungan dengan mengorbankan nyawa demi nyawa yang terus melayang dari setiap aksi kurang taktis yang gagal? whew, good luck with that :mrgeen:

  3. baiklah, silakan anda jelaskan kesalahan saya🙂

    keinginan berperang? tidak ada, saya tidak pernah menyatakan menginginkan peperangan🙂
    dan saya yakin semua muslim yg mendalami agamanya juga tidak menyukai jalan kekerasan, apalagi berperang.
    yg saya nyatakan itu bukan sebuah ramalan kuno, tapi bagian dari ketetapan atas dunia ini, ketetapan yg menjaga berjalannya alam semesta.
    mungkin sulit untuk dicerna oleh logika, tapi logika manusia memang memiliki batas.
    bagaimana logika bisa menjelaskan 2 orang yg terpisah antar benua dan tidak pernah bertemu tapi saling mengakui satu dan lainnya adalah saudara dekat padahal tidak memiliki hubungan keluarga? aneh, absurd, gila, tapi itulah keterbatasan logika.

    lagipula, sudah saya nyatakan sebelumnya, perang antara Islam dan Yahudi sudah lama terjadi dan belum berhenti, walaupun tidak dalam bentuk adu kekuatan senjata, seperti bom waktu yg menghitung mundur hingga munculnya perang terbuka.
    jadi tidak ada yg menginginkan peperangan ini terjadi, tapi Islam tidak akan diam bila diserang🙂

    “karena disebut peperangan Yahudi dan Islam, lantas apakah itu menunjukkan bahwa Yahudi di seluruh dunia sedang memerangi umat Islam di seluruh dunia? Ketika pertumpahan darah karena isu agama antara Islam dan Kristen di Ambon apakah itu berarti seluruh umat Kristen di Indonesia sedang memenuhi umat Islam? saya rasa tidak begitu”

    maaf, anda benar, soal pihak ketiga itu memang tidak relevan.

    “anda bukan orang pertama yg mengatakan masalah pengekangan beragama ini kepada saya, lucunya orang – orang lain yg mengatakan hal tersebut kepada saya kebanyakan juga tersenyum ketika mendengar gereja di dekat rumahnya ditutup atau pemda rumahnya melarang pembangunan gereja… sebegitu mudahkah standar ganda diterapkan? kalau umat Islam tidak boleh beribadah, itu berarti perang, kalau umat lain tidak boleh beribadah, mereka harus diam… kalau media barat menyebarkan berita itu adalah fitnah dan konspirasi, sementara kalau majalah Islam tanah air menyebarkan berita, itu adalah kebenaran?”

    kalau begitu saya orang yg pertama(?) yg mengatakan bahwa tidak jauh dari rumah saya ada sebuah rumah yg dijadikan tempat kebaktian, berdekatan dengan sekolah nasrani yg saya rasa juga memiliki gereja di dalamnya, dan tidak jauh dari rumah tersebut juga ada sebuah masjid, tidak ada masalah dengan hal itu.
    bagi saya lucu bila lantas menyatakan Islam memiliki standar ganda, apalagi bila kasusnya terjadi di komplek perumahan yg ternyata mayoritas pengunjung gerejanya adalah penduduk dari luar komplek.🙂
    lagipula, siapa yg menyatakan bila non-muslim tidak boleh beribadah maka dia harus diam?
    dan siapa pula yg menyatakan berita dari media barat berisi fitnah dan konspirasi?🙂

    “well, semua kembali ke dendam kesumat kedua belah pihak sejak jaman hijrah kah? pertanyaan saya, pernahkah anda berpikir untuk mencari solusi perdamaian alih – alih mengidamkan perang dalam ramalan yg digadang – gadang itu?”
    saya jadi tersenyum membaca tulisan anda.
    dendam kesumat ya? tepatnya siapakah yg memiliki dendam kesumat dan terhadap siapa?
    setau saya Islam tidak mengenal ataupun mengijinkan hal semacam itu🙂

    solusi perdamaian?
    bukankah sudah saya katakan, Israel tidak peduli dengan semua perundingan2 ataupun konsensus internasional, kecuali yang bisa menguntungkan mereka, tentu, mereka menjalin kerjasama dengan negara lain, tapi semata-mata untuk keuntungan mereka.
    sudah saya katakan pula, target Israel adalah penguasaan tanah palestina secara keseluruhan, serta pemusnahan semua warga Palestina yang tidak mau tunduk.
    dan sudah jelas Israel tidak ingin siapapun ikut campur atau memasuki Palestina, apalagi membantu warganya.

    jadi menurut anda, solusi perdamaian seperti apa yang bisa ditawarkan untuk menyelesaikan konlik Palestina selain tekanan militer internasional terhadap Israel untuk meninggalkan palestina dan mengembalikan hak2 mereka?

    “hmm, mencari dukungan dengan mengorbankan nyawa demi nyawa yang terus melayang dari setiap kurang taktis yang gagal? whew, good luck with that”

    gagal? saya pikir itu relatif tergantung dari sisi mana anda melihatnya, bagaimana pun juga, ini peperangan🙂

    1. baiklah, silakan anda jelaskan kesalahan saya

      okay, here is the geek part:
      logika adalah nama sebuah cabang ilmu matematika yang menjelaskan konsep validitas dari sebuah pernyataan, termasuk implikasi. Implikasi adalah pernyataan yang berbentuk “jika X, maka Y”, atau biasa ditulis dalam notasi X -> Y
      pernyataan anda:

      orang yg menilai konflik Palestina hanya peperangan biasa dan sudah merasa nyaman dalam “comfort zone”nya memang tidak akan peduli apapun yg terjadi disana selama kenyamanannya tidak terganggu, berbeda kalau dia mengetahui dampak lebih jauh dari invasi yg dilakukan Israel di Palestina.

      bagian yang saya bold adalah bentuk turunan dari penyataan implikasi, dimana pernyataan tersebut dapat dinyatakan bentuk lain:

      “Jika seseorang menganggap konflik Palestina adalah perang biasa, maka Ia tidak akan peduli”

      nah, permasalahan berikutnya, dalam kalimat berikutnya, “berbeda kalau dia mengetahui dampak lebih jauh dari invasi yg dilakukan Israel di Palestina”, artinya anda menyatakan:

      “Jika seseorang menganggap konflik Palestina lebih dari perang biasa, maka Ia akan peduli”

      dimana letak kesalahan penarikan statement anda?
      karena statement X -> Y tidak sama dengan not(X) -> not(Y), contoh mudahnya adalah pernyataan “di musim dingin saya membawa payung” tidak berarti “di musim panas saya tidak membawa payung”, tergambarkah sudah dimana saya menekankan anda bahwa anda telah mengintimidasi sebuah relativitas dalam argumen dan memaksakan pemutlakan?

      keinginan berperang? tidak ada, saya tidak pernah menyatakan menginginkan peperangan

      yea right, yang anda katakan hanya anda menunggu terjadinya peperangan…

      yg saya nyatakan itu bukan sebuah ramalan kuno, tapi bagian dari ketetapan atas dunia ini, ketetapan yg menjaga berjalannya alam semesta.

      1. definisi kuno: orisinalitasnya berada di masa lalu
      2. definisi ramalan: cerita mengenai kejadian yang mengambil waktu lebih ke depan ketimbang masa penceritaannya dengan dibumbui argumentasi bahwa hal tersebut akan terjadi di dunia nyata
      artinya?
      – hal tersebut mutlak memenuhi syarat sebagai sebuah ramalan kuno
      – ketetapan atas dunia? silahkan definisikan dulu apa itu ketetapan dunia dan apakah statement tersebut memang memenuhi syarat disebut ketetapan dunia

      bagi saya lucu bila lantas menyatakan Islam memiliki standar ganda, apalagi bila kasusnya terjadi di komplek perumahan yg ternyata mayoritas pengunjung gerejanya adalah penduduk dari luar komplek.

      apakah saya mengatakan Islam yang memiliki standar ganda? coba periksa kembali kata – kata yang saya gunakan🙂
      pertama, saya tidak mengatakan kejadian itu terjadi pada anda, kedua saya tidak mengeneralisir bahwa semua umat Islam seperti itu, saya hanya menceritakan kisah yang saya alami sebelumnya🙂
      melakukan generalisasi itu bisa banyak masalahnya bung🙂
      anyway, kalau contoh standar ganda yang media emang terinspirasi dari kata – kata anda sih sebelumnya, ketika anda men-state bahwa:

      perseteruan politik? bagi mereka yang hanya memahami konflik Palestina dari berita media massa

      bagi saya hal itu terdengar seperti diskreditasi media yang menuliskan konflik Palestina tidak dalam porsi yang cukup “dalam” menurut standar anda, mengenai standar ganda media itu sebelumnya juga sudah saya bahas mengenai apa jadinya kalau orang barat membaca media lokal kita dan itu memang sudah menjadi isu santer di tengah hiruk – pikuk Gaza ini

      dendam kesumat ya? tepatnya siapakah yg memiliki dendam kesumat dan terhadap siapa?

      hmm, maaf2, saya salah kata – kata tampaknya ya, dendam kesumat harusnya untuk hal yang terjadi di masa lalu dan masih membekas sampai sekarang, sementara isu perang dalam nubuat (saya ganti deh kata2 ‘ramalan’nya biar agak sakral nadanya) anda adalah isu masa depan… apa ya kata – kata yang pas? diskreditasi ras? prasangka rasial? yah, semacam itu lah…

      bukankah sudah saya katakan, Israel tidak peduli dengan semua perundingan2 ataupun konsensus internasional, kecuali yang bisa menguntungkan mereka, tentu, mereka menjalin kerjasama dengan negara lain, tapi semata-mata untuk keuntungan mereka.

      nah, kalau kali ini saya yang memang melakukan pengubahan topik menjadi lebih general… saya tidak bicara instance masalah Israel – Palestina, coba lihat lagi konteks saya bicara perdamaian, saya bicara mengenai sikap anda terhadap nubuat yang anda percayai itu bahwa akan ada perang dengan orang Yahudi dan itu adalah ketetapan alam sehingga kita suka tidak suka akan mengalami perang tersebut… pada isu itulah saya mempertanyakan, tidak kah terbersit pada kedua belah pihak bahwa dunia yang damai itu lebih penting dari sekedar memenuhi sebuah nubuat?

      gagal? saya pikir itu relatif tergantung dari sisi mana anda melihatnya, bagaimana pun juga, ini peperangan

      sebetulnya penekanan saya bukan pada kata “gagal”-nya, tapi pada “korban jiwa”-nya🙂 betul kata anda, status flotilla kemarin itu relatif, terlihat gagal kalau tujuannya membantu Gaza, tapi terlihat berhasil kalau memberikan sebuah rapor buruk tambahan bagi Israel, tapi sesuatu yang mutlak terjadi adalah adanya korban jiwa🙂

      1. pernyataan :
        “Jika seseorang menganggap konflik Palestina lebih dari perang biasa, maka ia akan peduli”

        memiliki makna yg sama dengan,
        “Jika seseorang menganggap konflik Palestina bukan perang biasa, maka ia akan peduli”, atau

        “Jika seseorang tidak menganggap konflik Palestina adalah perang biasa, maka ia akan peduli”

        yg menurut pemahaman saya, merupakan negasi dari :
        “Jika seseorang menganggap konflik Palestina adalah perang biasa, maka ia tidak akan peduli”

        jadi notasi X -> Y sama dengan not(X) -> not(Y).
        maukah anda menjelaskan kembali secara gamblang dimana letak kesalahan pengambilan kesimpulan saya?

        “- hal tersebut mutlak memenuhi syarat sebagai sebuah ramalan kuno
        – ketetapan atas dunia? silahkan definisikan dulu apa itu ketetapan dunia dan apakah statement tersebut memang memenuhi syarat disebut ketetapan dunia”

        baiklah, tapi saya lebih setuju dengan istilah “ramalan masa lalu”, dibanding “kuno” yg memiliki kesan meremehkan🙂

        yg saya maksud dengan ketetapan dunia adalah apa yg dalam Islam disebut sunatullah, atau ketetapan Sang Pencipta atas dunia yg diciptakannya.
        termasuk di dalamnya ketetapan alur bumi dalam mengitari matahari, kompleksitas, keteraturan, dan disiplin lebah madu dalam membangun sarangnya, termasuk kelebihan bangsa Yahudi dari bangsa lain yg sayangnya justru membuat mereka sombong dan memandang rendah bangsa lainnya.

        “apakah saya mengatakan Islam yg memiliki standar ganda? coba periksa kembali kata – kata yg saya gunakan
        pertama, saya tidak mengatakan kejadian itu terjadi pada anda, kedua saya tidak mengeneralisir bahwa semua umat Islam seperti itu, saya hanya menceritakan kisah yg saya alami sebelumnya ”

        anda memang tidak mengatakan secara explisit bahwa Islam memiliki standar ganda, tapi kalimat yg anda gunakan dalam pertanyaan anda menunjukan anda mengakui adanya standar ganda dalam penutupan / pelarangan pembangunan gereja (oleh muslim?) dan karenanya mempertanyakan betapa mudahnya hal tersebut dilakukan.🙂

        masalah pemberitaan media, saya tidak bermaksud mendiskreditkan media manapun, kecuali media yg memang sejak awal dimiliki atau pro terhadap pelaku agresi.
        contoh media blackout adalah aksi yg dilakukan pihak Amerika dalam link berita yg saya berikan sebelumnya.
        yg saya maksudkan adalah, banyak media (netral) yg tidak bisa memberikan atau bahkan mendapatkan berita faktual dari apa sebenarnya yg terjadi di medan perang, Israel akan melakukan apapun untuk menutupi kekejiannya dari media massa, dengan membuat-buat informasi untuk diberikan pada public bahkan menutup akses media sama sekali dengan memblokir akses ke Palestina seperti yg sekarang dilakukan.

        tapi untungnya tidak sedikit jurnalis yg berhasil masuk dan mengalami langsung kengerian yang dialami masyarakat Palestina, link ini salah satunya,
        http://www.haaretz.com/magazine/friday-supplement/jenin-by-night-1.226735
        ironis, karena media online tersebut berada di Israel.

        pada tulisan saya sebelumnya sudah saya nyatakan bahwa saya tidak pernah menginginkan peperangan, dalam ajaran Islam pun kaum muslim tidak boleh berperang kecuali telah diserang sebelumnya, itu pun harus adil.
        semua orang di dunia ini pasti menginginkan dunia yg damai.
        sayangnya, di balik “kedamaian” yg mungkin terlihat saat ini, peperangan dalam bentuk lain yg sudah terjadi selama beratus-ratus tahun masih berlangsung dan tidak menunjukkan tanda2 berhenti🙂

        “sebetulnya penekanan saya bukan pada kata “gagal”-nya, tapi pada “korban jiwa”-nya betul kata anda, status flotilla kemarin itu relatif, terlihat gagal kalau tujuannya membantu Gaza, tapi terlihat berhasil kalau memberikan sebuah rapor buruk tambahan bagi Israel, tapi sesuatu yang mutlak terjadi adalah adanya korban jiwa”

        ada tidaknya korban jiwa pun relatif, tergantung dari sejauh mana Israel bisa bertindak🙂
        dan bukankah menciptakan citra buruk bagi Israel juga salah satu bantuan bagi Palestina? sebagai langkah awal untuk membatasi tindakan Israel di Palestina🙂

      2. jadi notasi X -> Y sama dengan not(X) -> not(Y).

        tidak mas, coba cek link wiki yang saya berikan sebelumnya, notasi X -> Y itu nilainya sama dengan not(Y) -> not(X), nanti deh saya lagi malas nulis hari ini, besok2 deh dalam minggu ini saya akan membuat post khusus soal hal ini dan saya akan email anda urlnya😉

        baiklah, tapi saya lebih setuju dengan istilah “ramalan masa lalu”, dibanding “kuno” yg memiliki kesan meremehkan

        sudah, pakai kata nubuat saja seperti yang saya gunakan di komentar saya sebelumnya, lebih kultus kan kesannya?😉

        yg saya maksud dengan ketetapan dunia adalah apa yg dalam Islam disebut sunatullah, atau ketetapan Sang Pencipta atas dunia yg diciptakannya.

        ah, nanti deh saya balas semuanya😛 saya lagi malas menulis hari ini, besok saja ya saya tanggapi lagi…
        mohon maaf kalau harus membuat anda menunggu🙂

  4. Udah gini aja. Suruh Israel ngebuka blokirnya. Entar kan kapal2 masuk lagi. Dan tau2 banyak yg nyelundupin sejata buat Hamas. Asiik main perang-perangan lagi…:mrgreen:

    Eniwei… gw setuju kok, insiden flotilla ini berhasil mencoreng muka Israel di dunia internasional. Dan tampaknya US lagi gak ada power buat ngebackup…

    1. USA sebenernya dilema antara mau ngecam atau ngedukung kasus flotila, akhirnya cuma ngambil jalan aman dan bilang kalau Israel punya hak untuk geledah kapal bantuan kemanusiaan, dan hak itu emang ada.

      sayangnya statement itu udah keduluan sama mentri luar negrinya yg dah ngecam dari awal, jadi lucu deh😀

  5. lu lagi tem.. ngebahas ginian..

    biarin lah orang lsm, agama, atau partai mau ikut-ikutan untuk memajukan namanya sebagai pahlawan. kalo gw sih biarin aja muncul tragedi flotilla kedua tem, jadi yang ngompor2in buat ikutan tenggelam sekalian. yang namanya oknum apalagi yang tidak berpikir menggunakan logika itu harus diberantas.

    1. gw seorang humanis kok bill sekalipun gw gak religius (apa malah gak theist-ius? :P)
      dan menurut gw, manusia selalu bertindak dengan logika (kecuali saat seorang anak gadis menilai calon lelakinya :P)… masalahnya terkadang logika itu tidak menggunakan kaidah penyimpulan yang valid… terkadang juga logikanya benar hanya saja karena perbedaan dasar teori antara satu sama lain yang membuat penyikapan yang berbeda – beda🙂

      1. kecuali saat seorang anak gadis menilai calon lelakinya😛 )…

        ada lho yang pakai logika😀

      2. cek lagi statement gw bill, “kecuali” disitu gw letakkan setelah statement yang mengandung kata “selalu”, which means, negasi dari “selalu X” adalah “ada yang not X”, jadi tidak menutup kemungkinan “ada juga yang X” untuk kasus tersebut😛 *ngeles*

  6. “ah, nanti deh saya balas semuanya saya lagi malas menulis hari ini, besok saja ya saya tanggapi lagi…
    mohon maaf kalau harus membuat anda menunggu”

    silakan, tidak masalah🙂

    saya hanya sedikit bingung saat anda menyatakan saya telah salah mengambil kesimpulan dan memaksakan pemutlakan, tapi anda tidak menunjukkan hal yang menjadi pemaksaan tersebut.
    tapi setelah saya pikirkan kembali, apakah anda mencoba menunjukan bahwa saya menghilangkan kemungkinan adanya orang yang tetap tidak peduli pada konflik Israel walaupun ia mengetahui konflik tersebut lebih dari sekedar peperangan?

    1. hehehe, sori baru ingat saya masih punya utang diskusi sama anda:mrgreen:

      iya betul, secara matematis, pernyataan yang setara dengan X -> Y, adalah not(Y) -> not(X), ketika anda mengatakan bahwa not(X) -> not(Y), hal itu berarti menutup kemungkinan bahwa not(X) bisa saja berakhir dengan (Y)…

      anda memang tidak mengatakan secara explisit bahwa Islam memiliki standar ganda, tapi kalimat yg anda gunakan dalam pertanyaan anda menunjukan anda mengakui adanya standar ganda dalam penutupan / pelarangan pembangunan gereja (oleh muslim?) dan karenanya mempertanyakan betapa mudahnya hal tersebut dilakukan.

      sekali lagi saya tegaskan, hati – hati dalam melakukan generalisasi dan asumsi🙂

      yg saya maksudkan adalah, banyak media (netral) yg tidak bisa memberikan atau bahkan mendapatkan berita faktual dari apa sebenarnya yg terjadi di medan perang, Israel akan melakukan apapun untuk menutupi kekejiannya dari media massa, dengan membuat-buat informasi untuk diberikan pada public bahkan menutup akses media sama sekali dengan memblokir akses ke Palestina seperti yg sekarang dilakukan.

      yang netral itu hanyalah fakta, tidak ada asumsi yang netral🙂
      kalau anda berkata ada media yang memberitakan ada orang palestina dibunuh, itu bisa saja fakta dan netral, buktinya pun bisa saja ditunjukkan…
      tapi kalau anda berkata bahwa “tujuan Israel adalah memusnahkan seluruh warga Palestina”, coba mana buktinya? bisakah sebuah media menunjukkannya? tanpa bukti, itu hanya asumsi, dan seperti saya katakan tadi, tidak ada asumsi yang netral sampai bisa dibuktikan dan asumsi tadi telah jelas sebagai fakta🙂

      ada tidaknya korban jiwa pun relatif, tergantung dari sejauh mana Israel bisa bertindak

      disini lah letak ketidak bijakan beresiko tinggi yang saya maksudkan pada komentar sebelumnya🙂

  7. Satu hal yang gw setuju Tem:
    -sebaiknya janganlah dengan sadar memberi anjuran untuk membuat (banyak) manusia berada dalam situasi dimana sangat memungkinkan terjadinya kehilangan nyawa. Walaupun untuk tujuan yang (diasumsikan) baik dan mulia, sebaiknya diambillah langkah yang lebih baik.

    //bung botem ini sepertinya gemar sekali dengan persamaan boolean🙂

    1. betul sekali bung aji, sebetulnya point penting tulisan ini memang itu, mengenai diskusi saya di sesi komentar memang sebetulnya telah menyimpang🙂

      //ah bung aji ini, kalau semua orang membuat standar keabsahan argumen sendiri2 kan bisa berabe dunia, makanya saya pakai persamaan boolean yang sudah jelas standar bakunya🙂

  8. @Orang Ganteng:

    benar, Hamas memang bergerilya di jalur Gaza memerangi Israel, tapi, berapa banyak yang memahami kenapa Hamas masih terus ada dan memberikan perlawanan dari dulu hingga sekarang?

    sebelumnya sudah saya tuliskan, Israel ingin menguasai tanah Palestina secara keseluruhan, selama ini kita hanya mendengar tentang jalur Gaza karena memang banyak pejuang Palestina yang masih mempertahankannya.

    Israel itu sudah mundur total dari Gaza sejak 2005. Kalo anda belum tau, gak usahlah ngomongin konflik ini.

    Israel menduduki Gaza sejak 1967 dan waktu itu merebutnya dari Mesir, bukan dari Palestina. Jadi, Gaza itu dulunya bagian dari Mesir.

    Tapi setelah Israel mundur, Hamas tetep sajah menyerang Israel dengan roket-roketnya. Nah, ini membuat Israel sering berkonflik dengan Hamas yang ujung-ujungnya memblokade Gaza di tahun 2007 s/d sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s