Uncategorized

Untung Ruginya Memilih Tuhan

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk serius, jadi bagi para debater yang masih sangat niat mendebat saya soal theism dan atheism, saya katakan dari awal saya akan menanggapi komentar anda dengan lelucon😛

Okay, sejak beberapa bulan lalu ketika saya mulai membahas masalah ketuhanan di facebook, gak sekali dua kali ketika sebuah diskusi mencapai titik kebuntuan antara harus percaya Tuhan atau tidak, terdengar jawaban seperti ini:

“Mending percaya aja, toh kalo Tuhan itu gak ada ya gw gak rugi, tapi kalo ada, gw dapet surga, sementara atheist, kalo gak ada ya gak untung, kalo ada atheist rugi masuk neraka”

Logika ini cukup terkenal dan dipopulerkan oleh matematikawan Blaise Pascal (yap, pascal yang bikin segitiga polinomial itu) dan biasa disebut Pascal’s Wager ( http://en.wikipedia.org/wiki/Pascal’s_Wager ). Yah, biarpun nadanya emang agak2 pragmatis tapi banyak yang ngikutin pemikiran ini…

Nah, awalnya memang sepintas terlihat bahwa paham atheism itu ruginya ada, untungnya gak ada, tapi masalahnya, emang iya paham theism itu gak ada ruginya?

Ilustrasinya gini:

  • ketika menyikapi masalah Tuhan, manusia dihadapkan pada pilihan, mau percaya Tuhan atau nggak, nah atheist milih nggak, theist milih iya
  • selanjutnya, theist akan memilih lagi, dari semua agama yang ada, agama mana yang mau dianut, mulai dari A sampe Z
  • setelah memilih agama, theist akan kembali dihadapkan pada pilihan, mau memilih aliran mana dari agama2 itu
  • setelah memilih aliran, berikutnya theist akan memilih lagi, implementasi bagaimana yang akan digunakan dalam kehidupannya
  • setelah itu, theist akan memilih lagi bagaimana mereka harus menyikapi isu – isu di luar agamanya seperti politik negara, sosial dengan agama lain atau sains

Nah kasusnya tentang Tuhan itu secara garis besar bisa dibilang kemungkinannya:

  1. Tuhan itu gak ada
  2. Tuhan itu ada dan dia gak peduli apa yang manusia lakukan (gak itung2an gitu, siapapun boleh masuk surga atau siapapun masuk neraka)
  3. Tuhan itu ada, dia peduli sama yang manusia lakukan, tapi dia strict soal agama-aliran-cara hidup mana yang dia pilih
  4. Tuhan itu ada, dia peduli sama yang manusia lakukan tapi dia gak terlalu strict sama agama (yah, masih bisa dinego lah)

untuk masing – masing kemungkinan efeknya adalah:

kasus 1 : Tidak ada Tuhan

atheis hidup santai, theist hidup dengan cara yang sebetulnya gak ada untungnya

kasus 2 : Tuhan yang tidak mengurusi kehidupan manusia

atheis hidup santai, theist hidup dengan cara yang sebetulnya gak ada untungnya karena toh sama2 bakal masuk surga, neraka, atau malah mungkin gak ada afterlife

kasus 3 : Tuhan yang strict sama agama

atheist hidup santai, theist hidup dengan cara masing, tapi cuma yang milih agama, aliran dan implementasi yang pas yang dapet untung, sisanya udah cape2 ngikutin ajaran agamanya nasibnya sama aja sama atheist

kasus 4 : Tuhan yang menilai kehidupan manusia tapi fleksibel urusan agama

atheist hidup santai, theist hidup dengan cara masing, tapi cuma yang milih agama, aliran dan implementasi yang pas yang dapet untung gede, sisanya cape2 ngikutin ajaran agamanya, nasibnya bakal nunggu kompensasi yang sama aja sama atheist

jadi kesimpulannya? :p

Kalau mau main pragmatis dan cari aman, jelas dari ilustrasi di atas bahwa untuk banyak kasus, nasib anda gak akan jauh beda sama yang hidup santai…

Btw, tulisan ini bukan bertujuan untuk menggambarkan enaknya jadi atheist lho sebetulnya, saya justru ingin menuliskan, bahwa pragmatisme dalam kehidupan beragama tidak akan membawa anda ke mana – mana, memenangkan tiket ke surga jauh lebih berharga dibanding masuk ke sekolah impian, perusahaan bergengsi atau jabatan yang bagus… Nah kalau untuk hal – hal itu saja anda berpikir serius, kenapa untuk hal yang satu ini kebanyakan orang justru mendasarinya dengan pragmatisme?🙂

_________________________________________________

note: tulisan ini awalnya saya publish di note facebook, tapi karena banyak peminatnya, saya publish ulang disini biar semua orang bisa baca😉

8 thoughts on “Untung Ruginya Memilih Tuhan

  1. Sonya Permata Putri >>
    regardless Tuhan itu ada atau nggak,, sebenernya ada untungnya juga lho jadi theist..

    bikin hidup lebih terarah (karena ada yang memberikan petunjuk),, lebih nyaman (karena merasa ada yang melindungi), dan lebih bahagia (karena selalu diingatkan untuk berbahagia dan mensyukuri apa yang kita punya)..

    ps: just comment, bukannya ngasi info.. soalnya gw yakin lw juga udah pasti tau soal ini hehehe

    Rizky Andriawan >>
    bahagia itu relatif, hidup santai itu mutlak *lho* ;p

    Daniel Albert >>
    Pascal Wager: ada atau tidak ada Santa Clauss, lebih baik percaya saja. Kalau ternyata ada, mgkn dikasi hadiah lho pas natal. Kalau gak ada y gpp.. gak rugi apa-apa toh xD
    ~intent: joke

    Rizky Andriawan >>
    @abe
    Tenang be, apapun Tuhannya, minumnya the botol sosro ;p

    Eh salah, maksud gw, apapun Tuhannya (kasus 1,2,3 atau 4), lo bakal senasib sama gw brader😀

    Gregorio Cybill >>
    nah itu bener tem, hidup santai. atheis memang hidup santai sih, bisa gw gambarkan: “manusia menjadi less productive dalam sosialisasi dengan sesama”.

    karena dengan aturan agama itu manusia menjadi ter-bound dengan aturan-aturan:
    – yang memaksa manusia secara rohani untuk lebih membantu sesamanya (powerful people), atau
    – yang membuat manusia suka bergantung pada kepercayaan rohani (less powerful people)

    because these kinds of people exist then there are supply and demand secara rohani. I myself, for now, prefer to be neutral from these, because I’m not a less powerful person, but I’m not that powerful enough yet.

    Arudea Mahartianto >>
    udah enaknya hidup aja yang baik.. memaksimalkan potensi pribadi tapi ga bikin susah orang😀 Kalo bisa malah ngajak yang laen biar lebih maju :p
    mau atheis kek, mau theist kek, mau apa kek, kalo kontribusinya ke dunia lebih bagus ya lebih mulia di mata siapapun :p ya ga sih ?

    Dimas Rachmat Tieskara >>
    tulisan yg aneh… ;))
    tapi masih kurang tem.
    jaman dulu walaupun blm ada agama ataupun peradaban, manusia sudah mengenal konsep tuhan/dewa dan aturan.
    bukan berarti tuhan/dewa menjelma di hadapan mereka sehingga mereka percaya, tapi udah jadi naluri dasar manusia untuk mencari keteraturan dan “tuhan”nya masing2.

    Rizky Andriawan >>
    yang namanya prosesi penyembahan Tuhan, meskipun kunp dan tradisional, itu juga agama mat… dan yang namanya agama, itu ya peradaban :p

    anyway, setau gw malah konsep peraturan yang datang dari Tuhan itu datang belakangan, kalo gak salah sejak jaman nabi mises di peradaban mesir deh, ada kisah Tuhan menurunkan dan membuat peraturan untuk manusia… sebelumnya penyembahan manusia ke Tuhan justru berfokus gimana caranya menyenangkan hati Tuhan supaya permintaan kita dikabulkan…

    so, no… gw rasa benang merahnya antara atheis dari masa ke masa adalah sama2 gak percaya pada apa yang dilakukan kepada si Tuhan/dewa-nya itu akan membuahkan hasil😀

    Dimas Rachmat Tieskara >>
    kayanya udah ada jauh sebelum jaman cerita nabi2 deh, misalnya dewa langit yg nurunin hujan/petir, dewa api, dewa air, dewa ikan (oversized fish) dll…
    bukannya itu dah ada sejak prehistoric era?

    yg coba lu tulis di paragraf 2 sebagai 2 hal yg bertentangan itu sebenernya sama aja, cuma ada yg keliatan lebih kompleks aja ;))

    ga percaya dan akhirnya ga peduli, tetep aja namanya cuek😛
    rata2 pasti cuma berhenti di tahap “ga percaya” dan ujungnya ngambil sikap ga peduli sama semua hal yg berbau “agama” ;))

    Abe Mitsuteru >>
    klo pendapat gue : “Jaman sekarang itu seharusnya kita dituntut untuk beriman dan bermoral (beragama kalau sudah menemukan yang cocok), bukan beragama tapi ga bermoral”

    Dimas Rachmat Tieskara >>
    sederhana dan ironis…
    orang yg beragama pasti punya moral.
    nah sekarang, orang yg ga punya moral, apa masih pantas dikatakan beragama?

    Rizky Andriawan >>
    @rachmat
    Beda dong, ketika manusia udah memasuki masa dimana Tuhan bikin aturan (aturan as in kode etik, cara hidup dlsb) itu baru ada masalah taat gak taat…

    Sebelumnya tuhan/dewa/roh kan diperlakukan sebagai sosok untuk disembah dan meminta bantuan, bukan panutan dan standar moral dalam kehidupan…

    Tergantung definisi lo soal ‘beragama’, kalo definisi lo beragama itu cuma menstate diri memeluk satu agama, berarti beragama belum tentu bermoral :p

    Dimas Rachmat Tieskara >>
    soal taat ga taat itu dah ada sejak manusia kenal konsep “supreme being”, mereka yg ga taat dikenakan hukum adat.
    di masa itu mungkin emang ga ada kitab seperti yg sekarang ini, tapi toh di masa itu ada dukun yg dianggap perwakilan dewa dan menjadi pemimpin spiritual suku.
    panutan mungkin emang ga ada, tapi aturan tetep ada.

    bagi gw sih, “menstate diri memeluk agama” itu blm bisa dibilang beragama, makanya gw tulis “orang yg beragama pasti punya moral”.

    beragama secara istilah bukannya berarti memiliki aturan yg mengikat hidupnya?

    Rizky Andriawan >>
    Yak, karena commentnya udah kebanyakan, saya simpulkan aja deh:

    “apapun kepercayaannya -beragama atau nggak, bertuhan atau nggak-, minumnya the botol sosro!”

    Setuju?😀

    Ivo Nugroho >>
    aqua lebih murah dari teh botol :p
    jadi ga setuju… :p

    Dimas Rachmat Tieskara >>
    gw lebih suka aer putih anget, jadi ga setuju juga😛
    btw, dalam kehidupan nyata persamaan 1 + 1 itu hasilnya bisa 1 loh😄

    Rizky Andriawan >>
    -_-“

  2. saya theis percaya kalau sang pencipta itu ada,
    saya memilih theis karena tidak ingin terjadinya konflik antar umat beragama,
    lebih baik menjadi atheis yang bermoral, santun, dan manusiawi.
    dari pada menjadi orang yg beragama namun munafik, cth: tuh liat di diskotik saat ada pemeriksaan identitas pengunjung.
    tuh liat FPI suka bikin rusuh. tuh negara2 timur tengah diserang negara amerika serikat.
    Agama=Pemicu konflik.
    disini bukannya saya merasa paling benar dalam hal seperti ini, tetapi ini hanyalah opini pribadi sebagai orang theis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s