Uncategorized

The Amazing Avengers Rises : Ini Jamannya Film Superhero Epic

Pecinta komik superhero tampaknya akan setuju dengan tulisan ini, summer 2012 adalah momen penting untuk genre film yang diadaptasi dari komik – komik superhero. Tiga buah film hasil adaptasi komik superhero beredar di tahun ini, dan ketiganya -well, at least 2 deh kalo keberatan dibilang tiga – tiganya- menerima review yang luar biasa dari para kritikus sebagai sebuah standar baru untuk film hasil adaptasi dari komik superhero.

Dua dekade terakhir memang terjadi kemajuan besar dalam teknologi penggarapan film, era yang ditandai duo kakak beradik Wachowski meng-abuse habis – habisan special effect untuk menunjang action yang menahan nafas penonton dalam membangun trilogi The Matrix yang legendaris ini tentu saja menarik Marvel dan DC, dua raksasa produsen komik amerika untuk akhirnya mampu membawa aksi para superhero mereka dari imajinasi para penulisnya ke layar lebar, dan inilah ulasan singkat perkembangan film – film superhero dari waktu itu sampai sekarang.

X-Men: ini jamannya visual effect

Tahun 2000 Marvel merilis film adaptasi dari salah satu grup superhero tersohor mereka yaitu X-Men, lagi – lagi penggunaan special effect yang mewah menghiasi hampir seluruh film, mata penonton seolah ditarik untuk tidak lepas dari layar ketika berbagai tembakan cahaya dan ledakan menyala – nyala mewarnai layar. Sebuah era baru telah dimulai, ini jamannya menyajikan superhero dalam kemasan ledakan, levitasi dan tembakan cahaya yang meramaikan layar.

Spider-man : era action dibungkus dalam visual effect

Tahun 2002, lagi – lagi Marvel memberikan sebuah standar baru bagi sebuah film superhero. Bekerja sama dengan Sony Pictures, mereka mengirim jagoan solo terpopuler mereka ke layar perak, Spider-man si manusia jaring pun hadir dalam sebuah film ciamik besutan Sam Raimi. Berbeda dengan gaya yang ditampilkan oleh X-Men yang menjual ledakan dan tembakan cahaya, Raimi dan krunya melempar – lempar kamera untuk bergelayutan di tengah – tengah kota, menghasilkan gambar nyata dari aksi spider-man ber-web-swing ria di tengah kota, sekali lagi menahan nafas penonton di paru – paru masing – masing layaknya berada di wahana simulator roaller coaster minus gempa mini di kursi masing – masing.

Tahun – tahun berikutnya Marvel masih mendominasi layar perak, dengan 2 ramuan berbeda yang dimilikinya, yaitu drama + aksi seolah nyata ala Spider-man dan mewahnya special effect dari X-men, mereka menelurkan Daredevil, X-men 2 dan 3, Spider-man 2 dan 3, Hulk, Fantastic Four 1 dan 2, dan beberapa film lainnya.

 

Batman Begins : standar baru dalam film superhero

Lalu datanglah DC. Tidak mau kalah melihat kompetitornya meraup dollar demi dollar dari pemutaran film mereka yang secara komersial sukses besar -meskipun beberapa secara kualitas bikin geleng – geleng kepala-. Pasca Spider-man 2 tahun 2004 yang sukses besar baik secara komersial maupun kualitas, DC datang membawa 2 jagoan terbesar -dan 1 spin off teraneh mereka, kalau Catwoman-nya Halle Berry tahun 2004 itu dihitung film- mereka ke layar perak. Yang kedua dibawa adalah Superman, jagoan paling top dari DC yang hadir dalam Superman Return tahun 2006, dan well, gagal sih. Tapi sebelumnya di tahun 2005, DC memulai ulang sebuah seri baru film adaptasi dari tokoh Batman yang di era 1990-an berakhir dengan kenistaan yang teramat pedih bagi fans Batman harus menyaksikan jagoan -dan terutama penjahat- yang mereka nikmati kehebatannya di komik menjadi bahan lawakan di layar lebar lewat Batman Forever dan Batman And Robin.

Batman Begins, sebuah seri baru bagi Batman, sebuah standar baru bagi film hasil adaptasi dari komik Superhero. Nolan sang sutradara seolah membuka mata penonton dan filmmaker di seluruh dunia bahwa inti dari film adalah cerita, karakter dan plot, dan film superhero pun tidak terlepas dari pakem itu. Nolan memulai film pertamanya dengan background story dan pembangunan karakter yang mendalam mengenai sosok Bruce Wayne, jauh lebih dalam dari apa yang dilakukan Raimi terhadap Peter Parker di tahun 2002. Dengan karakter dan background story yang kuat, ditambah gaya khas Nolan yang sepertinya terobsesi dengan twisted plot di setiap filmnya plus caranya menghadirkan nuansa yang gelap untuk membius penonton dalam keseriusan dan mengikuti dengan seksama setiap detail yang Ia lemparkan ke layar perak, Ia benar – benar sukses menghadirkan sebuah era baru dalam genre film superhero, dan Batman Begins adalah film superhero pertama yang mendapat rating di atas 8.0 di IMDB dengan skor 8.1 (cmiiw).

Kesuksesan DC lewat Batman Begins kemudian diikuti serangkaian kegagalan film superhero baik dari Marvel maupun DC, Spider-man 3,  X-men 3, Fantastic Four 2, Superman Returns semuanya terasa begitu rendah standarnya dibandingkan dengan Batman Begins.

2008: The Dark Knight and Iron Man with clue of The Avengers project

Tiga tahun berlalu tanpa adanya film superhero berkualitas, hingga akhirnya di tahun 2008 Marvel melahirkan Iron Man dan DC meluncurkan sekual dari Batman Begins, yaitu The Dark Knight.

Lewat Iron Man, Marvel benar – benar menunjukkan intensinya untuk menyaingi Batman Begins. Lewat Tony Stark yang karakternya dibangun secara serius, Marvel terlihat serius tidak mau ketinggalan dari standar yang telah dipatok oleh Batman Begins dan hasilnya memang sebuah film Superhero yang luar biasa yang  juga diganjar oleh kesuksesan komersial dan kritik yang positif. Jika mengacu pada rating IMDB, rating Iron Man adalah 7.9, hanya sedikit terpaut dari Batman Begins, tapi di atas film – film superhero yang lain. Lewat Iron Man juga, Marvel telah menyisipkan pesan ambisi mereka untuk membangun film The Avengers, kumpulan Superhero mereka yang bergabung untuk melawan kejahatan pada skala epic.

Dan di tahun yang sama, Nolan sekali lagi mengukuhkan superioritas seri Batman yang digarapnya lewat The Dark Knight. Berbekal karakter Joker si musuh besar Batman yang psikopat dan penuh twist, Nolan benar – benar menyalurkan obsesinya pada twisted plot di film ini ditambah lagi dengan akting yang luar biasa dari Heath Ladger. Tidak hanya itu, Nolan pun memberikan sebuah nuansa baru tentang apa itu chaos. Chaos di tangan Joker bukan hanya sekedar penjahat berkekuatan super meledakkan bangunan atau menembak helikopter, tapi betul – betul kekacauan, ketakutan dan keputus asaan masyarakat yang dihadirkan dengan ciamik dalam balutan nuansa gelap yang kental. Lagi – lagi sebuah standar baru film adaptasi komik pun terlahir, tak heran film ini mampu meletakkan dirinya di jajaran 10 film terbaik sepanjang masa versi IMDB.

Sejak saat itu, beberapa film telah dirilis, DC merilis Green Lantern yang gagal total, Marvel merilis Iron Man 2, Captain America dan Thor yang relatif bisa dinikmati sambil lagi – lagi menunjukkan obsesinya untuk merilis The Avengers di tahun 2012. Seri X-men juga melahirkan beberapa film prekuel, setelah prekuel mengenai Wolverine yang gagal, mereka akhirnya bisa kembali dengan X-Men First Class yang cukup sukses. Sementara itu Spider-man ala Raimi yang gagal total di film ke 3 setelah film ke 2 yang sukses akhirnya tidak jadi dilanjutkan ke film ke 4 dan memutuskan untuk melakukan reboot di tahun 2012.

 

2012: The Amazing Avengers Rises

Dan inilah tahun 2012 yang ditunggu – tunggu, tahun dimana Nolan akan menyelesaikan trilogi Batman-nya, dimana project Avengers yang sudah dipromosikan sejak Iron Man akhirnya dirilis, dan reboot Spider-man yang rela membuang Tobey McGuire akhirnya akan keluar.

Tidak salah rasanya Marvel dan DC mempersiapkan ketiga project ini untuk jangka waktu yang cukup lama, ketiganya benar – benar memenuhi ekspektasi yang luar biasa dari fans. Saya masih ingat pertama kali memasuki studio untuk menonton The Avengers dengan ekspektasi gila – gilaan yang ada di kepala, dan saya masih bisa keluar teater dengan kekaguman yang luar biasa, jauh di atas ekspektasi. Begitu juga The Dark Knight Rises, meskipun sejak awal semua spoiler sudah menunjukkan bahwa Miranda Tate adalah Talia Al Ghul, tapi tetap twist yang disajikan mampu memperangah penonton di tengah – tengah pertempuran besar – besaran antara Batman melawan Bane dan pasukannya. Dan Amazing Spider-man meskipun tidak sedahsyat 2 film yang lain tetap saja cukup menarik untuk dinikmati dengan cerita dan karakter yang lebih segar, seri baru ini jelas peningkatan signifikan dari seri Raimi yang sebetulnya juga sudah luar biasa.

Ada 6 tokoh dalam The Avengers, ketakutan terbesar dari para fans jelas adalah akan ada karakter yang menjadi lemah dan tidak terlihat sementara yang lain mendominasi ternyata terbukti bukan masalah untuk mereka. Pembuatan film Iron Man, Captain America dan Thor sebelumnya sangat membantu untuk tidak perlu memberikan ruang bagi background story bagi 3 karakter kuat tersebut, ditambah dengan Hulk yang berusaha untuk tidak membahas masa lalunya, ruang untuk background story dan pengembangan karakter menyisakan tempat yang lega untuk Black Widow, Hawk Eye dan Loki. Adegan interogasi Loki oleh Black Widow dan adegan perdebatan para jagoan beberapa setelah itu adalah drama berkualitas top yang mampu mengeluarkan karakter semua tokoh yang terlibat di dalamnya hanya dalam beberapa menit saja. Sisanya adalah pertarungan – pertarungan epic bertensi tinggi yang mengeksploitasi action dan special effect habis – habisan. Tidak heran film ini sukses besar, baik dari segi drama maupun action film ini terlalu luar biasa untuk disepelekan, lagi – lagi jika mengacu pada rating IMDB, rating film ini yang 8.6 jelas mengungguli Batman Begins walaupun masih terpaut beberapa point di bawah The Dark Knight. Namun mengingat ini baru film pertama, tidak salah rasanya para fans berharap film kedua dari seri ini akan lebih baik lagi dan bukan tidak mungkin melampaui The Dark Knight.

Di kubu lain, Nolan menutup triloginya lewat Bane, karakter penjahat hebat yang disia – siakan untuk hanya menjadi pelengkap di Batman And Robin, juga Catwoman dan tentu saja Talia Al Ghul yang santer dispekulasikan sebagai alter ego dari Miranda Tate. Sebelum film ini keluar, DC juga berhasil mensukseskan adaptasi tokoh Batman ke dalam video game, yaitu lewat Batman: Arkham Assylum dan Batman: Arkham City. Yang menarik dari Arkham City adalah hadirnya kembali tokoh Catwoman yang sukses merebut kembali perhatian fans setelah hancur di film-nya Halle Berry tahun 2004. Bagi pecinta Batman yang memainkan Arkham City, figur Catwoman yang seksi, lincah dan kuat menghadirkan ekspektasi tersendiri yang sepintas sangat sulit ditaklukkan oleh Anna Hathaway. Namun ternyata semua itu berhasil dipenuhi oleh The Dark Knight Rises. Anna Hathaway yang entah bagaimana caranya berhasil membentuk tubuhnya yang tadinya seksi – anggun menjadi seksi – petarung, begitu juga menghadirkan Selina Kyle yang mampu menaklukkan pria tapi tidak dengan rayuan seksinya tapi dengan akting brilliantnya. Cerita yang tetap gelap, penuh twist dan lagi – lagi sebuah cara baru melihat apa itu chaos berhasil dihadirkan oleh Bane. Dan percaya deh, udah tahu bahwa Miranda Tate itu Talia Al Ghul tidak akan mengurangi surprise yang terjadi ketika menonton film ini. Film ini mungkin memang tidak sedahsyat The Dark Knight, tapi juga tidak terlempar jauh ke bawah, hanya sedikit saja terpaut di belakangnya dan semua itu dilakukan tanpa mencontek sedikit pun eksekusi dari Dark Knight, sepertinya kita semua memang perlu angkat topi untuk Nolan atas 2 film yang sama – sama luar biasa ini.

Terakhir, Amazing Spider-man memang belum sedahsyat Batman Begins, tapi sepertinya fans masih optimistis akan hal tersebut. Ditambah lagi seri ini masih menyisakan 1 kartu besar untuk dimainkan di film – film berikutnya yaitu kematian Gwen. Ditambah lagi Seri yang kali ini sepertinya memang dimaksudkan untuk berada dalam 1 alur, jadi sepertinya tidak salah jika kita sedikit berharap bahwa Amazing Spider-man 2 dan 3 akan mampu menghadirkan film – film ciamik bagi fans. Filmnya sendiri sebetulnya menarik, pendekatan Peter Parker yang socially awkward tapi cheerful lebih mudah diterima oleh fans yang lebih muda karena lebih dekat dengan karakter Peter Parker di animated series tahun 90an ketimbang Peter yang super nerd seperti di komik Amazing Spider-man yang dimulai tahun 1960-an. Ditambah lagi karakter Gwen yang konon katanya dirancang khusus untuk menjadi adorable di mata geek memang menjadi point plus tersendiri bagi film ini. Mungkin satu – satunya yang disayangkan di film ini adalah Lizzard, si villain utama yang terlihat terlalu sepele jika dibandingkan villain – villain top yang digunakan di film superhero lainnya dalam beberapa tahun terakhir.

Terakhir, saya sebagai fans berat komik – komik superhero Marvel dan DC sih tentu saja braingasmic berkali – kali tahun ini, 3 film dan ketiganya epic tentu saja menyenangkan untuk fans. Ditambah lagi film – film yang lahir tahun ini kesemuanya memberikan dimensi baru baik dari segi drama, action maupun plot.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s